Sejak mendapatkan lisensi fixed wireless broadband di medio 2009 lalu untuk spektrum di 2,3 GHz, layanan milik Internux yang kini dikuasai grup Lippo itu mau tak mau harus puas dengan coverage area yang dimiliki.
Saat berbincang dengan detikINET di Bekaresto, Jakarta, Selasa (28/6/2016), Head of Product Bolt Angkasa Perdana Putra mengaku tak terlalu mempermasalahkan soal cakupan area. Lagipula, mereka sudah cukup puas karena sudah kebagian area Jabodetabek.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, menurut Angki, konsumsi internet paling besar dihasilkan dari Jakarta. Porsinya, bisa mencapai 90%. Bolt sendiri saat ini baru saja meraih jumlah pelanggan baru, yakni lebih dua juta pelanggan. Angka tersebut diraih dalam kurun waktu dua tahun.
Meski pencapaian tersebut dibilang luar biasa, Bolt tak mau berpuas diri. Masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, termasuk mengisi titik-titik kosong (blank spot) di wilayah tempat jaringan 4G LTE-nya digelar.
Caranya, adalah dengan melakukan penambahan BTS (Base Transceiver Stations) 4G di Jabodetabek dan Medan. "Saat ini Bolt sudah memiliki 3.600 BTS 4G. Rencananya hingga akhir tahun kami akan menambah sekitar 200 sampai 300 BTS 4G lagi," umbar Angki.
Hanya saja, ketika berbicara porsi, Angki menjelaskan bahwa 80% pembangunan akan ditempatkan di Jabodetabek. Sementara Medan sisanya. "Kami lihat di Medan tidak banyak gedung-gedung tinggi. Jadi, tambahnya tidak terlalu banyak. Akan ada penambahan sedikit untuk area Medan," pungkasnya. (rou/rou)











































