Jumat, 17 Jun 2016 04:21 WIB

Peluncuran Satelit BRI

Satelit BRI Dibutuhkan Hingga ke Pelosok Negeri

Achmad Rouzni Noor II - detikInet
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Bagi negara kepulauan seperti Indonesia, teknologi satelit masih sangat dibutuhkan karena tidak semua area bisa terjangkau koneksi internet kabel optik maupun seluler karena kondisi geografis negeri ini.

"Demand satelit masih sangat tinggi, dan negara kepulauan mau tidak mau pasti butuh satelit karena tidak semua daerah bisa dijangkau fiber," kata Sekjen Pusat Kajian kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi ITB Muhammad Ridwan Effendi kepada detikINET, Kamis (16/6/2016).

Secara industri, pasar pengguna internet via satelit diperkirakan masih bisa mencapai 30 juta penduduk. Mereka ini para warga yang masih terisolasi telekomunikasi dan tinggal di daerah remote area dan pedesaan terpencil.

Dari angka itu diperkirakan ada kebutuhan sekitar 250 transponder untuk melayani internet satelit yang disalurkan melalui very small aperture terminal (VSAT). Pasar yang masih potensial itu harusnya bisa dimaksimalkan oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang akan meluncurkan satelit.

BRI sendiri rencananya akan meluncurkan satelit yang diberi nama BRIsat itu pada 17 Juni 2016 (waktu Kourou, Guyana Prancis) atau 18 Juni 2016 WIB. Satelit ini akan menggunakan dua frekuensi yaitu C band dan KU band.

Rencananya, C band akan digunakan untuk transaksi keuangan dan KU Band untuk komunikasi non keuangan. C band menggunakan frekuensi gelombang rendah sehingga tahan cuaca, sedangkan untuk KU band menggunakan gelombang tinggi sehingga mempunyai power yang kuat.

Satelit ini juga akan memiliki 45 transponder di mana sebagian dari transponder akan secara khusus dialokasikan bagi kepentingan negara Indonesia. Saat di angkasa, satelit ini mampu bertahan sampai 17 tahun.

Satelit BRIsat yang akan mengisi filing orbit satelit 150.5 BT akan menjangkau wilayah Indonesia, ASEAN, Asia Timur termasuk sebagian China, Laut Pasifik termasuk Hawaii dan Australia Barat.

Dari kalkulasi banyak pengamat dengan melihat pertumbuhan jaringan ATM milik BRI, mereka diperkirakan hanya butuh 23-24 transponder untuk keperluan bank pelat merah itu.

Artinya, jika pemerintah jika hanya akan menggunakan empat transponder, diperkirakan ada sekitar 18-17 transponder yang akan menganggur. Namun sayangnya tidak demikian.

Karena menurut Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, transponder itu seluruhnya akan digunakan oleh BRI sesuai rencana pemakaian satelit BRIsat dalam setahun ke depan.

"Saya tadinya kalau masih ada transponder kosong yang bisa dipakai, masih ingin tambah lagi lebih dari empat transponder yang dikasih. Tapi ternyata nggak sampai setahun, berdasarkan plan BRI, seluruh transponder terpakai semua," jelas Chief RA, panggilan akrab Rudiantara.

Di Indonesia, bisnis penyewaan transponder satelit lumayan menggiurkan karena antara pasokan dan kebutuhan masih timpang. Indonesia memiliki 159 transponder lokal dari total kebutuhan 237 transponder.

Jika BRI mau menyewakan sisa transponder tentu akan menambah pundi-pundinya karena satu transponder biasanya dikenakan harga sewa sekitar Rp 100 miliar per tahun.

Namun hal itu, kata Rudiantara, tidak memungkinkan karena izin yang akan diterima BRI dari Kementerian Kominfo hanyalah lisensi telekomunikasi khusus (Telsus) yang sifatnya non-komersial dan hanya untuk konsumsi pribadi BRI saja. (rou/ash)
-

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed