Minggu, 15 Mei 2016 15:35 WIB

Ekspedisi Langit Nusantara

Deg-degan Berakhir Kebanggaan Tim Elang Nusa

Ardhi Suryadhi - detikInet
Foto: ash/detikINET Foto: ash/detikINET
Bali - "Saat kita mengadakan press conference launching itu agak tegang, karena itu hari pertama. Sekarang kita sudah lega, banyak suka duka yang sudah dilalui drone ini," itulah pengakuan Vice President Marketing Communications Telkomsel Nirwan Lesmana terkait program Ekspedisi Langit Nusantara (Elang Nusa).  

Nirwan pantas tegang, apalagi ia adalah Chief The Mission Elang Nusa yang punya ambisi besar untuk menerbangkan dua unit drone — Elang Barat dan Elang Timur — untuk melintasi 50 kota dari Sabang dan Merauke serta menempuh jarak 8.500 km.

Misi tersebut tentu tak mudah. Terlepas dari ini belum pernah dilakukan oleh orang lain sebelumnya, Elang Nusa juga menjadi pertaruhan Telkomsel untuk membuktikan performa dan kualitas jaringannya.  

Jangan bayangkan drone yang digunakan tim Elang Nusa sama seperti drone yang dijual di pasaran. Memang, tim juga mengoperasikan drone 'biasa', yaitu DJI Phantom. Namun drone keluaran perusahaan asal China tersebut hanya digunakan untuk merekam Elang Barat dan Timur saat beraksi di langit.

Sementara drone utamanya adalah Elang Barat dan Timur yang bertenagakan Pertamax, dimana tangkinya bisa menampung bahan bakar untuk terbang selama 3 jam nonstop. Drone ini dikemudikan dari darat. Sang pilot duduk di bak mobil double cabin, yang dilengkapi dengan peralatan pengontrol drone.
Dalam bak mobil itu, terdapat dua buah monitor besar, juga setidaknya ada tiga buah antena yang berfungsi sebagai alat komunikasi antara drone dan tim yang ada di bawah.

Antena-antena ini punya fungsi berjalan di frekuensi yang berbeda, yaitu untuk mengontrol drone dan juga mengirimkan video yang direkam menggunakan kamera GoPro yang terpasang di Elang Barat.

Selama sebulan penuh sejak 14 April hingga 14 Mei 2016, kedua drone itu merekam video yang kemudian diunggah melalui jaringan broadband Telkomsel. Sehingga masyarakat dapat mengikuti perjalanan secara lengkap, baik melalui live streaming maupun recorded di situs www.telkomsel.com/elangnusa.

Nah, di sinilah jaringan Telkomsel diuji. Vice President Network Quality Management Telkomsel Hanang Setiohargo tak segan menyebut bahwa program Elang Nusa adalah ujian bagi network Telkomsel.

"Dari jalur yang ditempuh tentunya membutuhkan jaringan broadband mumpuni yang sempat membuat kita deg-degan," ujarnya dalam jumpa pers akhir perjalanan drone Elang Nusa di Garuda Wisnu Kencana, Bali, Sabtu (14/5/2016) petang.

Wilayah yang dilalui drone tersebut pun menyentuh hampir 50% aset network Telkomsel. Operator dengan tagline Paling Indonesia itu memiliki total sekitar 110 ribu BTS secara nasional, jadi tim network Telkomsel harus mempersiapkan kurang lebih 50 ribu BTS agar performanya mumpuni untuk dilewati drone Elang Nusa ini.

Pasalnya, jika jaringan di wilayah yang dilalui drone tersebut jeblok maka rekaman gambar yang ditampilkan bakal mati di tengah jalan. Nah, inilah tugas menantang yang harus dihadapi tim jaringan Telkomsel.

"Pada waktu bikin flight plan (rencana terbang-red.) yang menentukan itu tim marcom, bukan tim jaringan. Tapi untungnya jaringan kita mampu menjawab tantangan ini. Dan orang yang mengakses gambar yang diambil Elang Nusa itu juga bisa dari mana aja. Itu yang kemarin juga kita harus pastikan, di mana pun mereka menggunakan broadband Telkomsel bisa melihat untuk menunjukkan kesetaraan jaringan Telkomsel," lanjut Hanang.

Tantangan yang Sulit Diduga

Selain dari sisi jaringan, tantangan lain yang juga bikin deg-degan adalah soal cuaca. Misalnya, cerita Nirwan, saat tim bergerak dari Papua ke Maluku dimana wilayah ini juga punya infrastruktur minim.  

"Itu kan penerbangan harus pas karena kalau kita telat bergerak ke Maluku maka jadwal penerbangan berikutnya yang diizinkan oleh AirNav setempat itu lewat. Kita sudah dapat izin di Maluku misalnya di hari yang sama, Anda tiba-tiba telat maka gak bisa lagi," ungkapnya.

Jadi ini mirip penerbangan komersial, dimana waktu izin terbang dan lama penerbangan berlangsung memang benar-benar detail ditentukan, tak bisa semaunya. Bahkan Telkomsel harus mengantong total 30 surat izun dari berbagai instansi terkait untuk merealisasikan program Elang Nusa ini. Mulai dari Kementerian Perhubungan, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), AirNav dan masih banyak lagi.

"Dari awal saya sudah diwanti-wanti saat urus izin di Perhubungan Udara, pesawat dari kecil sampai gede 'musuhnya' itu cuaca. Tapi di Indonesia yang luas ini, kalau masih menunggu cuaca bagus semua ya gak bakal terbang-terbang. Cuma tinggal kalian siapkan backup plan-nya, maka kita siapkan," papar Nirwan.
"Kendalanya macam-macam, di Indonesia Timur misalnya, itu kan masih jarang melihat drone terbang. Jadi pas kita mau landing, orang masih dadah-dadah (melambaikan tangan-red.), jadi ketimbang nabrak orang maka dronenya kita belokin lagi. Tapi sudah kita siapkan backup agar streamingnya itu simultan. Misalnya lagi ada cuaca buruk, kita siapkan juga tim advance yang merekam di depan atau saat malam, jadi kita sudah mengantisipasinya," lanjutnya.

Namun kini, Nirwan dan tim Elang Nusa Telkomsel sudah bisa lega dan berbangga diri. Sebab misi dan ambisi besar dan yang diusung Ekspedisi Langit Nusantara bisa dituntaskan, termasuk dengan menggaet pelanggan untuk ambil bagian.

Dalam ekspedisi yang berlangsung satu bulan penuh ini, kehandalan jaringan broadband Telkomsel mendukung secara penuh proses untuk mengunggah hasil tangkapan kamera dari drone Elang Barat dan Elang Timur ke www.telkomsel.com/elangnusa. Dimana hingga akhir program, tayangan video streaming ini telah disaksikan oleh masyarakat selama sekitar lebih dari 75 juta menit, dengan lebih dari 24 juta kali view.

Adapun kecepatan rata-rata akses data selama perjalanan Elang Nusa berlangsung tercatat baik, di mana untuk download berada di angka 19,7 Mbps dan upload di angka 9,6 Mbps.   

"Kalau bicara broadband kan, semua (operator) klaim hampir sama ya, oh terluas, terbaik dan segala macam. Cuma kita ingin membuktikannya dengan lebih baik. TIdak ada bukti yang lebih baik kecuali dengan melibatkan pelanggan kita untuk mencobanya. Tapi bagaimana pelanggan itu mencobanya lalu kita bikin journey pariwisata (lewat Elang Nusa)," pungkas Nirwan. (ash/yud)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed