Rabu, 27 Apr 2016 17:23 WIB

Balon Internet Google di Indonesia: Berliku di Izin, Rumit di Teknis

Ardhi Suryadhi - detikInet
Foto: detikINET/Ardhi Suryadhi Foto: detikINET/Ardhi Suryadhi
Jakarta - Sejatinya, tiga operator seluler — Telkomsel, Indosat Ooredoo dan XL Axiata — sudah cukup lama meneken kesepakatan dengan Google untuk melakukan uji teknis balon internet Loon di Indonesia. Namun ternyata realisasi uji teknis tersebut tak semudah yang dikira.

Menurut CEO Indosat Ooredoo Alexander Rusli, banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum balon internet Google mengangkasa di langit Indonesia. Jangankan soal bagaimana menghubungkan antara balon di atas langit, soal izin pun harus dilalui secara berliku.

"Ketika kita melalui jalur udara maka itu harus izin ke Kementerian Perhubungan. Belum lagi uji teknisnya juga rumit," kata Alex di sela forum diskusi di Hotel Intercontinental, Jakarta, Rabu (27/4/2016).

Ia melanjutkan, dari sisi uji teknis pun balon Google tersebut harus diuji terkait pancaran sinyalnya saat berada di langit dan terminal yang berada di darat. Belum lagi soal tantangan dari angin yang bisa jadi menghempaskan Loon.

"Ini (Loon-red.) memang tak pakai listrik, tetapi solar. Sementara biaya ditanggung Google semua. Kita tentu berharap jalan, setidaknya untuk uji teknis ini," imbuh Alex.

Sebab jika berhasil tentu balon internet Google bisa menjadi metode alternatif bagi operator untuk menyediakan layanan kepada pelanggan. Sehingga ke depannya tak lagi menemui permasalahan soal tower telekomunikasi yang 'dikanibal' ataupun perangkat yang dicuri.

"Makanya saya penasaran juga, pengen tahu. Ini (Loon) bisa atau enggak digelar di Indonesia," ujar pria yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Selular (ATSI) ini.

Sementara terkait izin, Alex menyatakan jika Indosat tak mau ikut campur terlalu dalam. Mereka lebih menyerahkan hal itu kepada Google yang disebutnya harus bolak-balik untuk memberi edukasi dan pengurusan izin kepada instansi terkait di Indonesia.

"Mengurus ijin itu urusan Google, kita berusaha tak terlibat di situ. Google di sini (Jakarta-red.) terus, dan dealing dengan Kementerian Perhubungan, Kemenko Polhukam dan lainnya untuk menjelaskan segala halnya," pungkasnya.

Kerja sama untuk menerbangkan balon Google telah disepakati bersama Telkomsel, Indosat, dan XL Axiata saat mengunjungi markas Google, akhir November 2015 lalu. Balon Google itu rencananya akan menyebarkan sinyal 4G lewat udara di spektrum 900 MHz.

Balon Google ini nantinya akan terbang dan bergerak mengelilingi Indonesia di atas ketinggian 20 kilometer dengan radius pancaran sinyal 40 kilometer. Sinyal yang dihantarkan merupakan sinyal seluler 4G LTE dengan base station buatan Google sendiri.

Balon itu bisa terbang selama 150 hari di angkasa. Sebelum balon itu kempis, pihak Google akan mengarahkan lokasi pendaratan balon tersebut di daratan kosong, bukan di lautan, agar perangkat radio pemancarnya bisa diambil dan dimanfaatkan lagi.

Radio pemancar yang menempel di balon itu disediakan oleh Google, yang telah didesain khusus agar tahan terhadap air sampai angin kencang. Sementara itu, radio pada balon itu tetap terhubung dengan menara pemancar di darat milik operator seluler.

Dalam catatan, Google sendiri mengkalkulasi, Indonesia membutuhkan sekitar 6.000 balon jika ingin seluruh area Nusantara kebagian sinyal dari atas balon udara. Namun yang diuji coba tak akan sebanyak itu. (ash/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed