Kamis, 31 Des 2015 12:58 WIB

Rp 313 Triliun, Kado Akhir Tahun Telkom

Achmad Rouzni Noor II - detikInet
Jajaran direksi Telkom. Jajaran direksi Telkom.
Jakarta - Telkom menutup kiprahnya di akhir 2015 dengan memberikan kado manis bagi para pemodalnya. Market cap atau nilai kapitalisasi pasar dari BUMN telekomunikasi yang kini menjadi digital company itu berhasil menembus angka Rp 313 triliun.

Seperti detikINET kutip dari Bloomberg, Kamis (31/12/2015), emiten dengan kode saham TLKM ini menutup tahun 2015 dengan market capitalization Rp 312,98 triliun pada penutupan perdagangan kemarin waktu AS dengan harga saham ditutup Rp 3.105 per lembar.

Angka itu naik tipis dari posisi pembukaan hari itu Rp 3.100 per lembar dengan 40.956.100 saham yang diperdagangkan di New York Stock Exchange (NYSE). Saham Telkom pun selama 2015 menjadi satu-satunya Badan Usaha Milik Negara yang masuk dalam daftar top leader di pasar saham.

Sementara lima BUMN lainnya justru terperosok sebagai top looser yakni Perusahaan Gas Negara (PGAS), Bank Mandiri (BMRI), Semen Gresik (SMGR), Bank Negara Indonesia (BBNI) dan Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA).

Masih dari data Bloomberg, sepanjang tahun ini saham PTBA anjlok paling dalam mencapai 63,12%, lalu diikuti PGAS dengan penurunan sebesar 54,17%, dan SMGR turun 31,17%. BBRI merosot 15,55% dan BBNI sebesar 18,03%. Sementara TLKM naik 8,03%.

Market cap sendiri biasanya menunjukkan nilai dari satu perusahaan yang ditunjukkan dengan harga saham dikali jumlah saham beredar di bursa.

"Ini menunjukkan kepercayaan investor meningkat karena makro ekonomi membaik dan kinerja perusahaan menjanjikan," kata Direktur Utama Telkom Alex Janangkih Sinaga saat dihubungi detikINET, Kamis (31/12/2015).

Ia berharap, pada 2016 kinerja Telkom masih akan terus bertumbuh agar bisa membayar kepercayaan yang diberikan oleh para pemegang saham. "Tahun depan kita terus berusaha lebih baik lagi," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Riset Koneksi Capital Alfred Nainggolan memprediksi sektor telekomunikasi masih akan positif karena kebutuhan akan layanan tersebut masih sangat besar, terutama dengan adanya inovasi pengembangan jaringan 4G.

"Prediksinya pertumbuhan Telkom tahun depan akan moderat sekitar 10%," kata Alfred dalam analisanya.

Sedangkan, Managing Director Lembaga Management Universitas Indonesia Toto Pranoto memprediksi dari 24 sektor yang digeluti BUMN, industri telekomunikasi menjadi sektor yang dinilai memiliki daya saing lebih tinggi kala pasar bebas ASEAN dibuka.

"Telkom cukup mampu bersaing dengan BUMN di Malaysia dan Singapura," ungkapnya dengan nada optimistis.

Dalam kalkulasinya, pada 2014 lalu, Telkom mencetak profit margin 24,21%. Angka ini cukup bersaing dibandingkan dengan Axiata dari Malaysia yang mencetak profit margin 16,64%, dan Telekom Malaysia dengan profit margin sebesar 9,84%.

Penciptaan laba Telkom hanya sedikit lebih rendah dari Singtel dari Singapura yang berhasil mencetak profit margin 25,81%. Pada 2014, aset Telkom sekitar USD 11,32 miliar dengan total pelanggan mencapai lebih dari 140 juta pelanggan.

Saat ini sekitar 56% saham Telkom dimiliki negara. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kepemilikan saham pemerintah Singapura di Singtel (52%), serta pemerintah Malaysia di Axiata (38,7%) dan Telekom Malaysia (28,9%).

(rou/ash)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed