Menurut Walikota Balikpapan Rizal Effendi, smart city itu tidak hanya melulu soal infrastruktur teknologi. Tapi juga menyangkut kualitas sumber daya manusia (SDM).
Diakuinya, jumlah SDM yang berkompeten dalam bidang ICT di Balikpapan tidak sebanyak pulau Jawa. Meski demikian, masyarakatnya sendiri dinilai Rizal tak asing dengan teknologi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu, lanjut Riza, pihaknya sudah menyiapkan sejumlah program khusus seperti memperkenalkan teknologi sejak dini ke sekolah-sekolah. Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan pun telah membuka Institut Teknologi Kalimantan yang diharapkan dapat lebih besar dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Teknologi Surabaya (ITS).
"Kami ingin membangun peradaban dari sekolah-sekolah. Sehingga nantinya kami memiliki SDM yang kuat agar dapat masuk ke era smart city," kata Rizal.
Lebih lanjut Rizal mengatakan smart city di Balikpapan akan terfokus pada pelayanan dan birokrasi. Menurutnya, kedua hal ini penting dan saling berhubungan satu sama lain.
"Bila hanya berorientasi pada pelayanannya saja tanpa memperhatikan birokrasinya akan menjadi persoalan. Karena itu harus berjalan berbarengan," ujarnya.
Saat ini, pihaknya tengah mengodok rencana mengintegrasikan ICT dengan semua pusat layanan pemerintah. Dengan demikian, program ini nantinya akan makin mempermudah masyarakat mendapat pelayanan.
Salah satu hasil yang sudah terlihat adalah program Hospital Online Reservation atau HORE. Program ini hasil kolaborasi Dinas Kesehatan Pemkot Balikpapan, STMIK Balikpapan dan operator XL Axiata.
Lewat program HORE, warga Banua Patra ini dapat mengecek ketersediaan kamar di rumah sakit secara online lewat browser. Bila tersedia, warga dapat reservasi tanpa harus datang ke rumah sakit terlebih dulu.
Rizal pun berencana mengadopsi aplikasi kinerja pegawai yang sukses diterapkan oleh Pemkot Surabaya. Hal ini sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas birokrasi di lingkungan Pemkot Balikpapan. "Balikpapan harus dikelola dengan lebih cerdas lagi," tekadnya.
(afr/rns)