"APNIC ini acara profesional meeting. Setiap perwakilan negara bakal membawa isu menarik di kawasannya masing-masing," ujar Jamalul Izza, Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) di Hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta Selasa (8/9/2015).
Perwakilan Indonesia sendiri akan memfokuskan pada IPv6. Hal ini guna mendorong penggiat internet di Tanah Air untuk bermigrasi dari IPv4 ke IPv6. Karena saat ini alokasi blok alamat IPv4 di dunia akan segera habis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pihak APJII, kata Jamal, sudah pernah membuat task force terkait IPv6 bersama pemerintah. Sayangnya, hal tersebut sempat vakum beberapa waktu. Namun kini APJII akan melanjutkannya kembali.
"Kenapa task force harus dihidupkan. Karena gini, misalnya saya melakukan research tentang IPv6. Abis itu teman-teman lain gak ada yang pakai. Saya mau konek ke siapa?," jelas pria berkacamata ini.
Lebih lanjut, Jamal mengungkapkan saat ini APJII mulai membatasi permintaan IP baru. Ini sebagai upaya untuk mempercepat migrasi ke IPv6 di tanah air.
"Kalau dulu sampai /19 (baca slash 19). kalau sekarang cuma /22 dan /23," katanya.
Proses migrasi sendiri dapat dilakukan secara langsung maupun bertahap. Saat ini di Indonesia sudah banyak perangkat kecil yang dukung. Tapi untuk lainnya belum terlalu banyak. Karena itu, pihak APJII akan terus mengenjot agar migrasi IPv6 di Indonesia semakin cepat.
Untuk diketahui IPv4 digunakan sejak 1981. IPv4 menggunakan 32 bit dengan jumlah total alamat yang dapat mencapai 4 miliar alamat. Seiring penetrasi yang makin meluas dan tersedianya perangkat internet semakin banyak membuat IPv4 akan segera habis.
Guna mengatasi hal tersebut, maka pada 1999 dikembangkan IPv6 yang memiliki panjang 128 bit. IPv6 memiliki jumlah alamat yang cukup banyak dan tak akan habis hingga beberapa masa ke depan. Selian itu IPv6 juga menawarkan keamanan yang kuat dan kemampuan yang lebih baik dibanding IPv4. Saat ini banyak negara yang sudah menggunakan IPv6 ini, salah satunya adalah Jepang.
(ash/ash)