Alhasil, meskipun mengaku masih tetap butuh tambahan frekuensi, Smartfren pun mau tak mau harus cukup puas dengan bekal lebar pita 40 MHz yang ada di 850 MHz (10 MHz) dan 2,3 GHz (30 MHz) untuk ekspansi 4G.
Direktur Smartfren, Roberto Saputra, belum mau banyak berkomentar tentang tertutupnya peluang Smartfren untuk ikut serta dalam tender 3G. Ia cuma bilang bahwa pada dasarnya spektrum adalah infrastruktur utama dalam bisnis telekomunikasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut ia mengatakan, dari segi teknologi tidak menjadi kendala. Asalkan speaktrum tersebut sudah dinyatakan untuk teknologi netral. "Kalo teknologi netral kan artinya bisa dipakai teknologi apapun juga. kecuali memang spektrum tersebut digunakan untuk kebutuhan khusus," ujarnya.
Terkait soal pemanfaatan teknologi, dikatakan Robert, akan tergantung pada operator. Bila ingin mengekspansi untuk mengelar layanan yang lebih baik tentunya akan membutuhkan sebuah spektrum.
"Tanpa spektrum yang memadai akan menghambat pertumbuhan," tegas pria berkacamata ini. Meski demikian, ditekankan olehnya, Smartfren siap mengikuti peraturan pemerintah bila mana sesuai dengan regulasi yang berlaku.
Seperti diberitakan sebelumnya, pemerintah berencana melelang sisa spektrum 3G pada akhir 2015. Dipastikan, niatan Smartfren untuk ikut memburu tambahan frekuensi di 2,1 GHz bakal terganjal karena tidak mendapat restu dari Menkominfo.
Menteri sendiri menilai, Smartfren tak perlu ikut bersaing dengan pemain existing yang sudah lama bercokol di spektrum itu seperti Telkomsel, Indosat, XL Axiata, dan Hutchison 3 Indonesia, karena dinilai sudah punya cukup banyak frekuensi.
(rou/rou)