Meski demikian, peninggalan spektrum ini belum masuk dalam rencana Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara yang lebih memprioritaskan pemanfaatan frekuensi 850 MHz, 900 MHz, 1.800 MHz, 2,1 GHz, dan 2,3 GHz.
βUntuk 1.900 MHz biarkan saja dulu kosong setelah Smartfren pindah ke 2,3 GHz. Prioritas kita bukan di 1.900 MHz untuk dilelang atau dijadikan teknologi netral,β ungkap menteri yang akrab disapa Chief RA usai rapat di Kementerian Kominfo, Jakarta, Selasa (28/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
βKita mainnya tak seperti itu, kita mau ada balancing antara PNBP dan pajak. Kalau kejar PNBP, operator seperti disuruh bayar di depan, tak peduli mereka untung atau rugi,β pungkasnya.
Seperti diketahui, Smart Telecom harus melepas frekuensi selebar 13,75 MHz di 1.900 MHz pada akhir 2016 dan berpindah ke 2,3 GHz dengan jumlah frekuensi 30 MHz untuk menggelar TDD LTE.
Frekuensi 1.900 MHz sendiri memang banyak menimbulkan perdebatan kala Smart Telecom mengusung teknologi CDMA dimana terjadi interferensi dengan penghuni 2,1 GHz yang menggelar 3G. Frekuensi 1.900 MHz tadinya disiapkan untuk teknologi Mobile Satelite System (MSS) atau 3G
Sementara untuk pemanfaatan frekuensi, menurutnya yang jadi perhatian selanjutnya adalah di spektrum 2,3 GHz. Dari total lebar pita 90 MHz, 60 MHz di antaranya sudah terpakai, namun menggunakan teknologi yang berbeda.
βSekarang yang belum beres itu ada di 2,3 GHz karena pemain Broadband Wireless Access (BWA) belum konsolidasi dan ada sisa 30 MHz yang layak dilelang. Kalau yang 2,1 GHz kita akan lelang dua blok tahun ini, setelah itu dinetralkan,β pungkasnya.
(rou/ash)