Sisa dua blok 3G yang akan dilelang di spektrum frekuensi 2,1 GHz ternyata dinyatakan tertutup bagi operator non-GSM. Menkominfo Rudiantara hanya membuka peluang bagi pemain existing.
βKita tidak berikan ke pemain baru, tujuannya untuk efisiensi dan konsolidasi sesama pemain,β tegas menteri yang akrab disapa Chief RA saat berbincang usai rapat di Kementerian Kominfo, Jakarta, Selasa (28/7/2015).
Dari total 12 blok atau 60 MHz, spektrum 2,1 GHz masih tersisa dua blok atau 10 MHz. Tak cuma diminati oleh pemain exisiting seperti Telkomsel, XL Axiata, Indosat, dan Hutchison 3 Indonesia, pemain non-GSM seperti Smartfren Telecom juga tertarik untuk ikut tender 3G yang akan digelar akhir 2015 ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ditegaskannya, pemerintah dalam menggelar tender untuk dua blok tersisa di frekuensi 3G pun telah memberikan sejumlah persyaratan, di antaranya seleksi tidak untuk pemain baru di frekuensi yang akan dilelang.
Sementara, dalam sistem seleksi pun nantinya pemerintah tak menjadikan harga sebagai variabel penentu kemenangan. βKami tidak mau ada pemain baru hanya bermodalkan uang. Kita akan evaluasi kinerja peserta tender dari sisi non keuangan, seperti komitmen memenuhi lisens modern,β tegasnya.
Sebelumnya, Smartfren mengaku tengah mengkaji untuk ikut tender frekuensi 3G yang akan dilepas dua blok pada akhir 2015. Saat ini Smartfren memiliki frekuensi selebar 13,75 Mhz di 1900 MHz yang digunakan untuk teknologi CDMA.
Frekuensi yang bersebelahan dengan 2,1 GHz untuk 3G itu harus diserahkan ke pemerintah pada akhir 2016 sebagai konsekuensi didapatnya lebar pita 30 MHz di spektrum 2,3 GHz.
(rou/ash)