Menurut Kristiono, mantan Dirut Telkom yang kini jadi Ketua Umum Masyarakat Telematika (Mastel), aksi korporasi ini sudah sesuai dengan kecenderungan industri telekomunikasi secara global. Opsi tukar guling dinilainya lebih baik karena Telkom masih memegang kendali.
βApa yang dilakukan Telkom adalah upaya agar perusahaan tersebut semakin efisien. Dan efisiensi infrastruktur semacam itu telah menjadi kecenderungan global di industri ini,β kata Kristiono saat berbincang dengan detikINET lewat pesan singkat, Selasa (23/6/15).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kristiono menambahkan, tren efisiensi bukan hanya terjadi pada infrastruktur pasif, bahkan inftrastruktur aktif pun sudah di-sharing, jadi tidak dimiliki sendiri-sendiri karena industri ini relatif kompetitif.
βSaya kira arahnya tidak salah. Lagi pula kalau strukturnya seperti itu (share swap) kendali masih ada di Telkom. Berarti itu opsi yang lebih baik. Karena kebanyakan (operator) yang lain tidak melakukan itu. Saya kira itu bagian dari aksi korporasi Telkom dan saya yakin Telkom sudah melakukan kajian mendalam dan mengambil opsi yang dianggap terbaik,β tambahnya.
Apalagi, kata Kristiono, Menteri Kominfo yang sekarang sangat mendorong terjadinya efisiensi industri. Salah satu efisiensi industri itu adalah sharing infrastruktur, bukan hanya sharing infrastruktur yang pasif tapi juga infrastruktur yang aktif, itu justru oleh pemerintah didorong untuk dilakukan supaya industri jadi lebih efisien.
βKarena sekarang ini industri secara ovel all tidak efisien, pemainnya banyak sementara semakin lama revenue-nya semakin kecil sehingga mereka selalu kesulitan untuk menjaga net income, net profit-nya. Supaya bisa tetap menjaga margin industrinya sehat ya harus dilakukan efisiensi. Itu salah satu bagian yang didorong oleh pemerintah supaya bisa lebih efisien.β
Sebelumnya, Head of Research MNC Securities Edwin Sebayang mengatakan transaksi share swap Mitratel dan Tower Bersama (TBIG) dinilai akan saling menguntungkan. Dan dia meyakini direksi Telkom pun juga melihat TBIG sangat prospektif ke depannya.
"Saya meilihat ini menguntungkan. Sehingga kalau Telkom bisa pegang sahamnya juga bisa mendapatkan dividen nanti. Dengan diserahkannya Mitratel maka TBIG dapat tumbuh dan juga menguntungkan Telkom sendiri nantinya," ujarnya.
Berdasarkan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), aksi korporasi share swap Mitratel dengan TBIG dinyatakan telah sesuai dengan tahapan proses dan ketentuan serta peraturan yang berlaku. BPK juga tidak menemukan kerugian dan pelanggaran ketentuan dalam transaksi tersebut.
Hasil kajian Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) juga menyatakan bahwa proses share swap telah melalui proses kajian aturan hukum, kajian bisnis dan potensi keuntungan keuangan Telkom.
(rou/rou)