Program ini merupakan kompetisi yang diikuti sekelompok programmer, developer, digital entrepreneur, pemerhati lingkungan, dan mereka yang memiliki gagasan sebagai solusi untuk membantu masalah konservasi kelautan dan perikanan yang berkelanjutan di Indonesia melalui teknologi digital.
Indonesia memiliki kekayaan maritim dan kelautan yang luar biasa. Namun, seiring dengan kemajuan banyak masalah pun muncul. Dibutuhkan ide-ide baru serta solusi segar untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah itu.
"Fish Hackathon diadakan sebagai wadah munculnya ide dan solusi terbarukan untuk menyelamatkan budidaya kelautan Indonesia," jelas Chief Digital Service Officer XL Axiata Yessie D. Yosetya, dalam keterangan tertulisnya, Minggu (7/6/2015).
Fish Hackathon yang berlangsung di Jakarta ini, berbarengan secara serentak dengan event yang sama di 15 kota di dunia. Hadiah untuk pemenang pertama Indonesia adalah menjadikan prototype pemenang untuk diuji coba bersama program mFish secara langsung kepada penggunanya di Lombok.
XL akan mengirim dua orang dari tim pemenang selama masa uji coba tersebut berlangsung sebagai hadiah. Hadiah untuk pemenang kedua adalah untuk menyempurnakan prototype serta bisnis modelnya melalui mentorship program bersama XL dan Tone.
Semua prototype terutama dari para pemenang akan digunakan dan diberikan kesempatan uji lapangan bersama dengan mFish. Diharapkan prototype terbaik menjadi bagian dari mFish.
Pemenang global akan memiliki kesempatan untuk memperlihatkan prototype mereka di Barcelona pada acara World Mobile Congress, Februari 2016 mendatang.
Semua biaya untuk dua orang dari tim pemenang global ditanggung panitia. Sementara itu, pemengan favorit global akan diterbangkan untuk menghadiri acara World Ocean Congress di Santiago, Chile, pada bulan Oktober 2015
Untuk Indonesia, XL merupakan host country. Program ini memang adalah program dunia, di mana masalah kelautan menjadi hal utama dan harus segera diselesaikan.
Menurut Yessie, adalah wajar bila Indonesia sebagai negara maritim, kelautan menjadi fokus utama di mana dunia pariwisata Indonesia juga bertumpu kepada ekosistem kelautan yang berkelanjutan.
"Masyarakat nelayan membutuhkan solusi baru melalui teknologi agar tetap bisa melaut dan Indonesia tetap memiliki sumber pangan yang kontinyu. Kita ingin dorong itu muncul dengan kegiatan ini," katanya.
Sekadar diketahui, ada tiga komponen yang dinilai untuk menjadi pemenang di kegiatan ini. Pertama, inovasi berupa solusi terbaik yang menyelesaikan masalah paling dalam melalui segala hal yang disruptive.
Kedua, impact (dampak langsung), yaitu solusi yang menyelesaikan masalah paling relevan terhadap perikanan berkelanjutan, dan memiliki masa hidup yang bisa diprediksi dan mudah untuk dikembangkan serta direplikasi.
Ketiga, interface (tampilan), tampilan yang mudah digunakan, intuitif terutama untuk target segmen dari pengguna layanan.
Karya setiap peserta akan mendapatkan penilaian dari panel juri Indonesia yang antara lain berasal dari kalangan pemerhati lingkungan MDPI, peretas, dan pemerhati TIK.
Selain itu juga ada panel juri global, yang antara lain terdiri dari ahli Oceanic Institute, Amerika Serikat, serta ilmuwan dari GreenWave, WWF
(rou/rou)