Capital expenditure (capex) atau belanja modal, ditegaskan olehnya, tiap tahun sudah pasti dikeluarkan untuk belanja perangkat jaringan atau biasa dikenal Radio Access Network (RAN). Baik itu untuk 2G, 3G, maupun 4G.
"Capex kita 80% untuk RAN. Apa tidak bisa lebih efisien lagi? Tidak bisa! Kalau mau efisien ya harus konsolidasi, seperti yang dikatakan oleh Pak Menteri," ujarnya di gedung Indosat, Jakarta, Rabu (27/5/2015).
Seperti diketahui, Menkominfo Rudiantara telah mencanangkan program efisiensi di industri agar sumber daya yang terbatas bisa maksimal.
Untuk efisiensi di sektor frekuensi, jalan satu-satunya cuma konsolidasi melalui merger akuisisi. Namun ada cara lain juga, misalnya seperti konsolidasi jaringan untuk infrastruktur bersama.
"Kita sekarang sedang eksplorasi untuk konsolidasi seperti arahan Pak Menteri, tapi kita masih melihat peraturan apa yang dikeluarkan pemerintah untuk mempermudah konsolidasi," kata Alex yang juga Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI).
"Idealnya (jika terjadi konsolidasi operator) memang 3-4 operator saja. Di negara lain, empat itu sudah maksimum, tapi operator yang dimaksudkan itu adalah jaringan. Kita belum bisa sampai MVNO," lanjutnya.
Mobile Virtual Network Operator atau MVNO adalah sebuah layanan telekomunikasi yang menyewa atau memakai spektrum frekuensi milik Mobile Network Operator (MNO) melalui suatu perjanjian bisnis.
MVNO dalam hal ini dapat hanya berperan sebagai reseller dari MNO atau bisa membangun infrastrukturnya sendiri yang dibutuhkan sesuai dengan teknologi dan izin spektrum frekuensi yang dimiliki oleh MNO.
Kata Alex, umumnya di negara lain, maksimal hanya ada empat operator yang menjadi MNO. Sementara yang bisa menjadi MVNO bisa lebih dari itu.
Hal itu bisa terjadi, menurutnya, karena kapasitas jaringan yang dimiliki operator MNO tersebut mencukupi kebutuhan--atau bahkan melebihi.
Kerja sama MVNO sendiri katanya tengah coba dilakukan oleh Bakrie Telecom bersama Smartfren. Namun kata Alex, skema bisnis model itu belum bisa dikatakan murni MVNO.
"Namun sayangnya di Indonesia kapasitas jaringan kita masih sangat terbatas. Jadi saya pesimistis kita bisa mengadopsi MVNO. Apa yang dilakukan Bakrie dan Smartfren juga bukan MVNO," tegasnya.Β
(Achmad Rouzni Noor II/Rachmatunisa)