"Silakan, ada mekanisme pasar persaingan tarif," kata menteri yang mantan eksekutif di sejumlah operator telekomunikasi ini.
Tetapi yang pasti, lanjutnya, Kementerian Kominfo tidak akan mengeluarkan kebijakan floor price, menentukan harga minimum.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelanggan juga diimbau jangan terus meminta harga semurah-murahnya tetapi di sisi lain menginginkan kualitas yang paling tinggi. Sebab harus ada hitung-hitungan ekonomis juga agar operator bisa terus menjalankan roda bisnisnya.
"Operator jangan juga menjual di bawah harga produksi. Kalau begitu dan masyarakat inginnya harga murah-murah terus, bersiaplah dapat kualitas yang tidak bagus," menkominfo berpesan.
Wacana untuk menaikkan tarif data telah disampaikan oleh sejumlah operator. Indosat misalnya, operator ini bahkan mengaku telah menaikkan tarif datanya sejak kuartal kedua atau ketiga tahun ini.
President Director & CEO Indosat Alexander Rusli mengatakan, kenaikan tarif terpaksa ditempuh mengingat layanan data merupakan layanan nilai tambah yang berbeda dan membutuhkan biaya yang lebih besar dibandingkan dengan layanan tradisional seperti voice.
"Memang dalam jangka pendek yang dirugikan pelanggan, tapi dalam jangka panjang yang diuntungkan ya pelanggan juga. Jadi take and give lah," jelasnya.
Sementara President Director & CEO XL Axiata Hasnul Suhaimi mengakui, operator saat menjual layanan data saat ini masih belum mendapatkan margin yang ideal dan masih mengalami kerugian sekitar 10%-15%.
"Bayangkan saja, biaya produksinya USD 3 atau sekitar Rp 30.000 per GB, tapi kita jualnya 6.000 per GB. Kadang kalau lagi promosi bisa per 2 GB," ujarnya.
Menyikapi keluhan para operator ini, Menkominfo berpesan, kalaupun tarif data dinaikkan, jangan sampai konsumen yang dirugikan. "Artinya harus ada pilihan, termasuk pilihan harga bagi konsumen," tutupnya.
(ash/ash)