Pernah bermimpi suatu saat nomor ponsel kita sama dengan nomor rekening di bank? Sabar, hal ini sejatinya bukan mimpi dan sudah terealisasi di negara tetangga.
Lantas bagaimana dengan Indonesia? Kenapa tidak bisa. Hanya mungkin masih menunggu aturan main dari regulator terkait yang belum kunjung kelar.
Menurut Direktur Utama Telkomsel Alex J. Sinaga, nomor ponsel yang menjadi nomor rekening merupakan salah satu bentuk dari virtual banking. Dimana ponsel tak lagi menjadi alat komunikasi, melainkan juga sudah menjadi alat untuk berbagai transaksi pembayaran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hanya saja untuk sampai ke virtual banking harus ditempuh setahap demi setahap. Dimulai dari memasyarakatkan cass less society.
Sebagai latar belakang, Alex menjelaskan, penetrasi perbankan saat ini baru 40%. Padalah sudah ada 10 tahun lebih awal dari industri telekomunikasi yang telah menembus penetrasi 120%.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, bagaimana penetrasi perbankan bisa digenjot khususnya di pelosok negeri?
"Bagaimana mungkin sebuah bank bisa bikin cabang di pelosok Papua, karena gak mungkin, gak layak secara bisnis, pasti rugi. Lalu yang vertikal adalah daya beli atau income per kapita orang. Untung gak bank kalau pendapatan nasabah per bulan Rp 2 juta?" papar Alex, dalam sesi wawancara terbatas dengan beberapa media termasuk detikINET.
"Ada yang pernah mencoba, bank bekerjasama dengan perusahaan. Dimana semua gaji karyawan ditransfer ke rekening di bank itu. Namun belum sehari, sudah abis dana di rekening. Artinya, bank rugi," imbuhnya.
Sebab harus mengeluarkan dana untuk melayani, administrasi, dan bangun ATM. Namun dana yang tersimpan di rekening para nasabahnya itu tak bertahan lama.
"Jadi bisa dibilang itu gak mungkin. Lalu bagaimana agar orang bisa mendapatkan jasa perbankan? Masa dari dulu penetrasinya 40% terus?" Alex melanjutkan.
"Itu sebenarnya bisa dilakukan dengan sangat efisien. Saya pernah mempresentasikan dulu di depan Pansus UU Perbankan. Saya presentasikan virtual banking, kalau branchless banking itu terminologi dari perbankan, kalau virtual banking lebih dari itu," yakinnya.
Bos besar Telkomsel ini menjabarkan, di dunia ada tiga contoh kolaborasi perbankan dan industri telekomunikasi yang bisa dilihat sebagai contoh.
Pertama, di Brasil dimana industri telekomunikasi hanya jadi tim support. Ini yang kemudian disebut sebagai branchless banking. Dan hasilnya tak terlalu bagus, menurut Alex.
Kedua, di Afrika. Industri telekomunikasi berada di garis depan. Jadi operator jadi bank, dan hasilnya juga tak terlalu sukses.
Ketiga, contohnya bisa dilihat di Filipina. Di sini masih baru dan Alex belum berani untuk mengukur apakah yang berjalan di sana sudah sukses atau belum.
"Tapi growth-nya (yang di Filipina ini) lumayan. Jadi saya tawarkan ketiga ini, tapi saya menyarankan model yang ada di Filipina. Ini modelnya berpartner," ujar Alex.
Nah, di Filipina inilah nomor ponsel sudah bisa jadi nomor rekening. Namun untuk mewujudkan hal itu, kedua industri -- perbankan dan telekomunikasi -- harus dapat memendam ego demi kepentingan masyarakat. Dan dari sisi pemerintah juga harus bisa jadi pemersatu sekaligus pembuat regulasi.
Dengan terjun ke layanan perbankan, operator disebut Alex bukan malah mau 'mencuri' bisnis bank. Tetapi lebih ingin memainkan peran financial inclusion ini menjadi 100% dengan cara yang mudah dan murah lewat teknologi yang mereka punya.
"Kita (Telkomsel) sudah hadir di mana-mana. Dan masyarakat yang (maaf) tak sekolah pun bisa melakukan top up pulsa, dan sudah percaya dengan kita. Jadi bisa dibayangkan kalau nomor ponsel jadi nomor rekeningnya," tukas Alex.
"Jadi nanti tinggal kita kasihi kartu, dan bilang 'oke duitmu sudah ada di sini'. Mau belanja beras, tinggal tag di ponsel. Mau ambil duit ke ATM juga bisa tinggal tag. Karena judulnya bukan absolutely no cash (tanpa cash sama sekali), tapi less cash (mengurangi uang cash). Sebab produksi untuk mencetak uang dan koin itu triliunan rupiah. Jadi visinya adalah bagaimana menurunkan cash ini, dengan teknologi dan yang punya teknologi ini adalah industri telekomunikasi," jelasnya.
Miniatur Less Cash Society
Demi meniti langkah untuk mewujudkan virtual banking, Telkomsel pun memulainya dengan membuat miniatur ekosistem less cash society bersama Bank Mega. Kolaborasi keduanya sudah diteken dan tinggal menunggu realisasinya pada akhir tahun 2014.
Pemilihan Bank Mega sendiri lantaran dianggap punya ekosistem yang sudah terbentuk dan cukup besar. Lantaran dikelilingi oleh grup usaha Carefour, Baskins & Robins, Coffee Bean dan masih banyak lagi.
"Ini jadi miniatur yang mudah untuk menjelaskan ini loh less cash society. Kamu belanja di Carefour, Coffee Bean dan lainnya tinggal tap pakai ponsel. Kita juga nanti punya M PoS - Mobile Point of Sales, tinggal dicolokin ke ponsel kaya EDC tapi sangat kecil dan bisa dikantongi, harganya 2% dari EDC yang besar itu. Penggunaannya juga tinggal gesek," lanjut Alex.
Dengan miniatur ini, Telkomsel seraya ingin menunjukkan bahwa less cash society bisa digunakan dalam berbagai hal dan bisa diterapkan di Indonesia. Operator atau perusahaan lain yang ingin bergabung pun dipersilakan.
Β
"Ini memang menjadi virtual banking, nanti akan men-trigger ke arah itu. Orang kan melihatnya itu dari less cash society-nya dulu. Nanti orang bakal melihat, oh ternyata bisa," ujar Alex.
Namun usaha Telkomsel dan Bank Mega saja dirasa tak cukup kuat. Sebab di sisi lain masih butuh Undang-undang yang mengakomodir virtual banking. Kalau sudah ada payung hukumnya, maka akan jadi sangat mudah. Di Filipina sudah bisa menjalankan virtual banking juga karena mereka sudah memperbaiki aturannya.
Kemudian, bagaimana di mata pengguna, apakah diyakini bakal mau menggunakannya? "Tentu bisa! Di setiap implementasi sesuatu, periode itu (usaha untuk mengedukasi untuk mencoba) pasti ada. Lihat voucher fisik sudah gak sampai 1% sekarang, sudah hilang semua, semua sudah elektronik. Lima tahun yang lalu paling sudah ada 10% tapi kalau sekarang paling gak 1%, tapi memang butuh waktu," yakin Alex.
"Tapi kita balik lagi, kita percaya atau enggak. Saya percaya karena sudah melihat. Jadi di kita (sebenarnya) sudah ada meskipun dalam hal yang berbeda (voucher pulsa)," tandasnya.
(ash/fyk)