Country Manager Qualcomm Indonesia, Bernhard Siagian, menegaskan inovasi teknologi telepon nirkabel CDMA yang diluncurkan sejak 1989 tersebut masih ada dan terus akan berevolusi.
"Saya tidak melihat CDMA mati. Masih ada dan terus berinovasi. Buktinya dengan Smartfren, kami masih support untuk DO Advance mereka," tegas Ben di sela acara Innovation Qualcomm di Grand Hyatt, Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"CDMA masih ada di China. Di Indonesia Smartfren sudah menggunakan DO Advanced. Jadi menurut saya aman-aman saja," tegasnya. "Kalau China saja masih pakai, berarti ekosistemnya masih menjanjikan".
DO Advanced untuk optimalisasi data, menurut Division Head Product Development Smartfren Sukaca Purwokardjono, telah diimplementasikan oleh pihaknya di kawasan Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Semarang.
Sebelumnya, Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos Informatika Kementerian Kominfo Muhammad Budi Setiawan memperkirakan Layanan Fixed Wireless Access (FWA) di Indonesia telah menuju akhir kejayaannya.
Hal ini merujuk kepada performa pemain yang mengantongi lisensi tersebut dari sisi keuangan dan perkembangan dari teknologi CDMA yang tak begitu lagi berkibar di luar negeri. Selain itu, dari sisi handset, saat ini perangat yang mendukung CDMA mulai tidak banyak.
Di Indonesia, pemain berbasis CDMA yang mengantongi lisensi FWA adalah Indosat dengan merek StarOne, Telkom dengan merek Flexi, Mobile-8 Telecom, dan Bakrie Telecom dengan merek Esia. Masing-masing pemain memiliki lebar pita frekuensi 5 MHz dengan pendapatan sekitar Rp 1 triliun.
(rou/ash)