Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Ekspansi Telkom ke Negeri Jiran
Merajut Kembali Kemesraan Indonesia-Malaysia
Ekspansi Telkom ke Negeri Jiran

Merajut Kembali Kemesraan Indonesia-Malaysia


- detikInet

Amy Search berduet dengan Rossa (ash/detikINET)
Jakarta - Demi cintaku padamu
Ke manapun kaukan ku bawa
Walau harus kutelan lautan bara

Demi cintaku padamu
Ke gurun ku ikut denganmu
Biarpun harus berkorban jiwa dan raga


Sepenggal lirik lagu berjudul 'Cinta Kita' yang dinyanyikan Amy Search dan Rossa itu bak menyihir ribuan penonton yang menyemut di Dataran Merdeka, Kuala Lumpur, Malaysia, dalam konser bertajuk Harmony & Unity.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Acara yang digagas Telkom itu tentu bukan tanpa misi khusus. Terlepas dari urusan ekspansi bisnis, acara ini menyimpan harapan mulia, merajut kembali kemesraan Indonesia dan Malaysia.

Ya memang, Indonesia dan Malaysia merupakan negara serumpun. Dari bahasa kita hampir sama, perawakan dari penduduk kedua negara tak jauh beda, dan yang pasti lokasi kita bertetangga.

Hanya saja, kondisi yang begitu dekat tak lantas membuat hubungan Indonesia-Malaysia selalu erat. Sebaliknya, tensi tinggi di antara kedua negara dan rakyatnya sering terjadi. Ironis memang, namun inilah kenyataan.

Hubungan Indonesia-Malaysia yang naik turun pun diakui oleh Menteri Komunikasi dan Multimedia Malaysia Dato' Seri Ahmad Shabery Cheek dan Duta Besar Indonesia untuk Malaysia Marsekal TNI (purn.) Herman Prayitno.

Meski demikian, kedua pihak tak lantas ingin membiarkan hubungan yang tidak sehat ini kian tersemat di hati. Sejumlah asa untuk memperbaiki jalinan kedua negara pun dicari.

Adalah lewat bisnis telekomunikasi yang dipilih menjadi salah satu jalan untuk mempererat hubungan Indonesia-Malaysia. Telkom melalui anak usahanya, Telkom International (Telin) telah mendapat restu untuk memperluas ekspansinya ke Malaysia.

Menteri Komunikasi dan Multimedia Malaysia Dato' Seri Ahmad Shabery Cheek mengatakan, pemerintah Negeri Jiran mendukung keberadaan Telin Malaysia. Sebab ke depan diyakini akan banyak manfaat yang bisa diperloeh oleh kedua negara.

Dukungan pemerintah Malaysia untuk Telkom pun tak mau cuma dianggap isapan jempol. Hal ini salah satunya terlihat dari ngebutnya proses pengurusan izin Telin Malaysia yang hanya butuh waktu tiga minggu untuk mendapat lisensi Mobile Virtual Network Operator (MVNO).

"Permohonan izin cuma tiga minggu, dan langsung diurus. Ini bukti komitmen kami untuk membuka peluang usaha dari Indonesia," ujar Menteri Ahmad Shaber Cheek, usai penandatanganan MoU yang melibatkan Telin Malaysia.

Selain itu, pemerintah Malaysia juga memberi kesempatan Telin menggelar konser Harmony & Unity di Dataran Merdeka, Kuala Lumpur, pada 25 Agustus 2013 kemarin.

Padahal di saat bersamaan, pemerintah Malaysia tengah mempersiapkan hajatan besar di tempat yang sama untuk merayakan hari kemerdekaan mereka tanggal 31 Agustus mendatang.

"Ini spesial, sesuai hubungan Indonesia-Malaysia itu spesial," lanjut Menteri Ahmad Shaber Cheek.

"Ini bukti komitmen kami untuk mendukung Telin Malaysia dan mempererat hubungan Indonesia-Malaysia," tegasnya.



Setali tiga uang dengan sang menteri, Duta Besar Indonesia untuk Malaysia Marsekal TNI (Purn.) Herman Prayitno juga menyatakan harapan serupa. Intinya, Herman menyambut gembira dengan adanya kerja sama telekomunikasi antara Indonesia-Malaysia.

"Saya bangga dengan gagasan ini. Tentunya saya berharap layanan ini dapat mempermudah dan mempermurah layanan telekomunikasi bagi TKI (tenaga kerja Indonesia)," katanya.

"Tak lupa, terima kasih pula kepada pemerintah Malaysia atas kecepatan izinnya. Semoga kerja sama ini terus berlanjut sehingga negara serumpun ini lebih mesra," harap Dubes Herman Prayitno.

Tugas Berat Telin Malaysia

Kue pasar telekomunikasi Malaysia memang menggiurkan, sehingga Telkom International (Telin) pun terpikat untuk mencoba peruntungan. Singkat kata, didirikanlah Telin Malaysia untuk beroperasi ke negara tetangga dengan status MVNO.

Berbisnis di Malaysia, tentu tak akan diarungi Telkom semudah di rumah sendiri. Apalagi lisensi yang dikantonginya adalah MVNO alias Mobile Virtual Network Operator.

Artinya, Telin yang di Malaysia berencana menjajakan kartu As 2in1 Telkomsel, tak punya jaringan sendiri. Mereka harus menempel ke jaringan operator setempat untuk menjual layanan.

Aksi sewa jaringan ini tentu tak gratis. Telin harus membayar biaya sewa yang besarnya disesuaikan dengan seberapa besar trafik yang mereka pakai.

Memilih operator partner bagi Telin Malaysia juga tak mulus. Konon, ada resistensi dari pemain eksisting dengan kedatangan raksasa telekomunikasi asal Indonesia ini. Alasannya sederhana, mereka khawatir kehilangan pelanggan, terutama dari kalangan TKI.

Terlebih, pangsa pasar seluler dari TKI terbilang 'seksi'. Dimana jumlah TKI diperkirakan sekitar 2,8 juta, lalu ada traveler -- terutama yang berkunjung ke Malaysia untuk berobat -- sekitar 300 ribu, dan pelajar di angka 200 ribuan.

Pasar dari warga Indonesia sejauh ini diperebutkan operator tiga besar di Malaysia, yakni Celcom, Digi, dan Maxis. Dimana Digi disebut-sebut jadi basis operator terbesar TKI. Sementara Telin menggandeng Maxis untuk membuka ekspansinya di Malaysia.

Lantas, bagaimana dengan peluang Telin? "Kita sangat yakin melihat potensi pasar di sini tinggi. Bisnis berkembang, dan tak hanya di MVNO (Mobile Virtual Network Operator), tapi bisa lebih dari itu," imbuh Budi Satria Dharma Purba, Board of Director Telin Malaysia.



Sementara terkait isu resistensi, Menteri Ahmad Shaber Cheek coba menepisnya. Ia memastikan bahwa bisnis telekomunikasi Malaysia terbuka bagi siapa saja. Bahkan, ia coba menyebutkan bahwa ada investor dari Norwegia yang juga telah menyuntikan dananya ke Digi.

"Kita pro bisnis, Apalagi bagi Indonesia dimana hubungan Indonesia-Malaysia itu spesial. Jadi cepat izinnya. Investasi ke Malaysia itu terbuka, di Digi itu ada investasi dari Norwegia. Jadi jangan takut, karena Indonesia spesial," tegasnya.

Mengejar Mahakarya

Ya, restu sudah diutarakan dan Telin telah mendapatkan lisensinya di Malaysia. Kini, bola ada di tangan mereka, tinggal mau digerakkan ke arah mana roda bisnisnya.

Apalagi, Telkom selaku induk usaha Telin punya cita-cita yang disebutnya sebagai Mahakarnya. Dimana dalam rangka Hari Kemerdekaan RI ke-68, Telkom sudah menegaskan ambisinya untuk mempersembahkan tiga Mahakarya untuk Indonesia yaitu Telkomsel, Indonesia Digital Network (IDN) dan International Expansion.

Nah, target terakhir -- ekspansi internasional -- coba direalisasikan operator telekomunikasi pelat merah ini dengan semakin agresif melebarkan sayap bisnisnya ke sejumlah negara, termasuk Malaysia.

Hingga saat ini, Telkom telah melakukan ekspansi bisnis dan beroperasi di 4 negara, yaitu Singapura, Hong Kong, Timor Leste dan Australia.

Sementara tahun ini, Telkom siap memperluas bisnis di hingga 10 negara melalui Telin. Telkom akan segera beroperasi di Myanmar, Taiwan, Macau, Arab Saudi dan Amerika Serikat. Untuk Myanmar, Telkom pada 17 Juli 2013 memperoleh tender mengelola IP-Transit dari pemerintah Myanmar sebesar 2.5 Gps.

Sementara yang paling anyar adalah Malaysia dengan status MVNO dengan target awal dalam setahun menggaet 100 ribu pengguna.

Bagaimana Telkom, bisa?




(ash/sha)





Hide Ads