Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Asosiasi Telekomunikasi Tak Rekomendasikan Operator Virtual

Asosiasi Telekomunikasi Tak Rekomendasikan Operator Virtual


- detikInet

Diskusi telekomunikasi di acara IndoTelko Forum (rou/detikINET)
Jakarta - Asosiasi Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) menyatakan dengan tegas tidak merekomendasikan penyelenggaraan layanan berbasis MVNO alias Mobile Virtual Network Operator. Kenapa?

Dalam presentasi yang dipaparkan Alex Janangkih Sinaga, Ketua Umum ATSI dalam acara IndoTelko Forum di Balai Kartini, Jakarta, ada sejumlah alasan mengapa MVNO tidak cocok diselenggarakan di Indonesia.

Pertama, jumlah operator telekomunikasi di Indonesia sudah terlampau banyak. Dengan sepuluh operator, Indonesia menjadi negara terbanyak meskipun dari jumlah populasi penduduk masih lebih kecil dibandingkan China, India, bahkan Amerika Serikat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan jumlah operator yang begitu banyak, ATSI lebih mendorong agar terjadi konsolidasi, bukannya menambah pemain baru. Selain itu, sudah tidak ada lagi ruang bagi operator MVNO untuk berkreasi mencari margin di negeri ini.

"Penetrasi telekomunikasi sudah 120% dari jumlah populasi penduduk dengan coverage 95%, buat apa lagi ada MVNO. ATSI tidak merekomendasikannya karena mereka mau dapat margin berapa, dari sisi pricing saja kita sudah termurah di regional," jelas Alex yang juga Direktur Utama Telkomsel.

Alex menegaskan, rendahnya tarif telekomunikasi di Indonesia dibandingkan dengan tarif di negara lain secara regional, berdampak kepada pelaku industri yang mengakibatkan margin pendapatan operator turun.

Hal itu tercermin dari margin EBITDA (ratio earnings before interest, tax, depreciation and amortization) dari plus 56% hingga minus 50%. "Industri ini bisa kolaps kalau semua operator minus 50%," kata dia.

"Jadi kalau MVNO masuk, mereka mau jual apa? Harga sudah rendah banget, pasti rugi. Belum lagi kalau nanti ada merger akuisisi, MVNO juga harus ikut kembalikan frekuensi dan blok nomor. Dengan aset pelanggan tanpa nomor, dan cuma ada karyawan dan kantor, tidak ada nilainya," tandas Alex.

Efek Gunting

Sementara dari sisi pendapatan operator existing, diakui Presiden Director & CEO XL Axiata, Hasnul Suhaimi, voice sudah mulai stagnan, dan SMS menjadi stabil setelah sempat naik 6% kemudian turun lagi 6%.

"Sedangkan trafik data meski mengalami lonjakan signifikan seiring terus dibangunnya jaringan baru, namun dari sisi pendapatan tetap flat karena kena scissor effect (efek gunting)," ujarnya.

Director & Chief Wholesale Infrastructure Indosat, Fadzri Sentosa, juga mengatakan trafik data tumbuh dua kali lipat setiap tahun sementara kemampuan operator untuk bangun jaringan demi menambah kapasitas baru hanya 28% saja.

"Alhasil, kita under supply. Kualitas jaringan yang diterima pelanggan bisa terus menurun jika kita tidak menemukan cara baru untuk survive. Solusinya ya konsolidasi atau penambahan frekuensi, dengan refarming misalnya," kata dia.

Kondisi ini pula yang membuat Kementerian Kominfo bersemangat untuk mendorong konsolidasi industri demi mengurangi jumlah operator. Diharapkan lewat merger akuisisi ini jumlah operator di Indonesia bisa berkurang menjadi empat; tiga GSM dan satu CDMA.

"Caranya dengan konsolidasi industri secara natural atau didorong dengan regulasi. Itu sebabnya kami menyambut baik jika ada operator yang mau merger, misalnya seperti XL dan Axis," tukas Muhammad Budi Setiawan, Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos Informatika, Kementerian Kominfo.

Seperti diketahui, dari sepuluh operator yang beroperasi di Indonesia, mayoritas kepemilikannya dikuasai asing. Telkomsel yang menguasai market share terbesar dengan jumlah pelanggan 125 juta lebih pun 35% sahamnya dimiliki Singapura lewat SingTel.

Saat ini kapitalisasi pasar Telkomsel mencapai USD 24 miliar atau sekitar Rp 240 triliun. Artinya, dengan menguasai 35% saham Telkomsel, nilai kapitalisasi saham SingTel mencapai USD 8 miliar atau Rp 80 triliun.

Sementara Indosat sebagai operator terbesar kedua memiliki kapitalisasi pasar sekitar Rp 35 triliun dimana 65% atau Rp 23 triliunnya dimiliki oleh Qatar lewat Ooredoo -- dulu Qatar Telecom.

XL yang rencananya akan mengakuisisi Axis Telekom Indonesia juga dimiliki oleh Malaysia lewat Grup Axiata yang memiliki 66% saham. Dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp 43 triliun, nilai saham Axiata di XL mencapai sekitar Rp 28 triliun.

Sedangkan Hutchison 3 Indonesia 65% dikuasai Hong Kong lewat Hutchison, dan Axis sekitar 80,1% sahamnya dimiliki oleh Arab Saudi lewat Saudi Telecom Company (STC), 14,9% lagi dimiliki Malaysia melalui Maxis Communication Berhad.


(rou/ash)





Hide Ads