Demikian diungkapkan oleh Muhammad Budi Setiawan, Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos Informatika Kementerian Kominfo, usai acara IndoTelko Forum di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (25/6/2013).
"XL dan Axis sudah melapor untuk bergabung sejak bulan lalu. Tapi kami belum tahu apa mereka sudah lapor ke KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) atau belum," kata Dirjen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam aturan itu disebutkan, pemegang alokasi frekuensi radio tidak dapat mengalihkan alokasi frekuensinya yang telah diperolehnya kepada pihak lain, kecuali ada persetujuan dari Menteri terkait.
"Keduanya masih keberatan kalau frekuensi dan blok nomornya diambil," ungkap Budi. "Yang bisa kami lakukan ialah mengeluarkan Permen (Peraturan Menteri) atau PP baru untuk pengganti PP 53/2000," lanjutnya.
Saat ini XL menguasai frekuensi seluler di rentang spektrum 900 MHz, 2.100 MHz, dan 1.800 MHz baik untuk 2G maupun 3G. Sedangkan Axis memiliki dua kanal frekuensi di rentang spektrum 1800 MHz dan 2100 MHz.
Dari sisi jumlah pelanggan, XL memiliki sekitar 45 juta dan Axis 17 juta. Sehingga jika digabungkan, keduanya total memiliki 62 juta pelanggan dengan lebar spektrum yang lumayan besar.
"Tujuan kami memang mendorong konsolidasi agar lebih efisien," jelas Dirjen.
Hasnul Suhaimi, President Director & CEO XL Axiata, tak mengomentari soal rencana merger antar pihaknya dengan Axis. Namun secara implisit, pihaknya sudah meminta restu dalam acara diskusi hari ini.
"Konsolidasi harus dilakukan karena 10 operator sudah terlalu banyak. Sebelumnya, konsolidasi penuh sudah pernah dilakukan jauh-jauh hari sejak era Telkom Mobile dan Telkomsel, serta Indosat dan Satelindo," kata dia seperti memberikan sinyal.
"Keduanya, Telkomsel dan Indosat, akhirnya menjadi penguasa pasar saat ini. Mereka akhirnya memiliki frekuensi yang besar tanpa harus diambil terlebih dulu block numbering dan frekuensinya. Apa dampaknya setelah industri konsolidasi? Kualitas layanan akan meningkat sehingga mempertahankan pelanggan dari churn rate jadi lebih mudah,β lanjut Hasnul.
"Kalau churn rate cuma 1% per bulan itu masih sehat, 12% dalam setahun masih ok. Sementara di Indonesia ini 20% per bulan, dan ada 50 juta SIM Card terbuang setiap bulan. Itu sama saja buang Rp 2,5 miliar per bulan atau RP 3 triliun per tahun," pungkasnya.
(rou/eno)