Demikian dipaparkan oleh Marina Kacaribu, Head of Digital Lifestyle Group PT Telkomsel saat berbincang tentang tren Digital Lifestyle di sela acara CommunicAsia 2013 di Singapura, Rabu (19/6/2013).
Menurutnya, potensi pasar digital ini akan besar setelah ekosistemnya terbangun dengan baik, sehingga memudahkan pengguna untuk menemukan layanan yang sesuai dengan kebutuhannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Itu sebabnya Telkomsel merasa perlu edukasi pasar Digital Lifestyle dengan ikut membantu pengemasan dan promosi bagi para pengembang aplikasi agar monetisasi industri tersebut bisa berkembang.
Kata Marina, saat ini target para pengembang aplikasi memang lebih fokus untuk menarik user sebanyak mungkin, agar bisa dikapitalisasi untuk pengembangan bisnis advertising.
"Yang jelas potensinya besar, penetrasi smartphone di Indonesia mencapai 20% terhadap populasi. Tetapi, pengembang butuh dukungan manajemen bisnis dan inovasi agar bisa bersaing dengan konten dari luar negeri," ujarnya.
Selain Telkomsel, upaya untuk mengedukasi pasar agar ke depannya bisa dimonetisasi juga mendapat dukungan penuh dari induk perusahaan, Telkom, lewat program Indigo Inkubator. Telkom sendiri sudah menerima 300 aplikasi dari para pengembang.
Nantinya, mereka akan disaring dan dibina agar aplikasi yang dikembangkan semakin berkualitas dan layak secara bisnis seiring visi TIMES (Telecommunication, Information, Media, Edutainment, dan Services) yang diusung Telkom.
Telkomsel sendiri melayani 125,1 juta pelanggan seluler, sementara Telkom membukukan pelanggan broadband sebanyak 19,1 juta pelanggan.
(rou/rou)