Status tersangka yang menimpa Indosat dan anak usahanya, Indosat Mega Media (IM2), diyakini belum akan membuat Qatar Telecom (Qtel) selaku pemilik saham mayoritas, gerah dan berniat hengkang melepas perusahaan telekomunikasi terbesar kedua di Indonesia tersebut.
Hal ini diyakini oleh para anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI). Mereka menilai, Qtel masih akan tetap mempertahankan aset telekomunikasinya di negeri ini meski tengah digoyang tudingan korupsi senilai Rp 1,3 triliun oleh Kejaksaan Agung.
"Saya pikir Qtel tidak akan semudah itu hengkang, mereka itu operator yang kuat," kata anggota BRTI M Ridwan Effendi kepada detikINET, Rabu (9/1/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Secara fundamental, keuangan dan operasional kita tetap kuat, tetap solid. Case ini sudah lama, sejak tahun lalu. Kalau soal saham naik turun itu biasa, fluktuatif. Hari ini bisa turun Rp 200, besok bisa naik Rp 200. Performansi sampai kuartal ketiga tahun lalu masih tetap bagus," kata Head of Public Relation Indosat, Adrian Prasanto.
Kasus besar yang menimpa Indosat sebenarnya bukan kali ini saja terjadi. Pada 2007 lalu, Indosat juga sempat menghadapi kasus kepemilikan silang yang ditudingkan oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).
Indosat yang saat itu dikuasai oleh investor asing dari Singapore Technologies Telemedia Pte (STT) pada akhirnya berganti kepemilikan. STT akhirnya melepas 40% sahamnya ke Qtel pada pertengah Juni 2008.
Qtel melakukan perjanjian pembelian tertanggal 6 Juni 2008 dengan STT untuk membayar tunai sebanyak USD 1,8 miliar atau Rp 16,74 triliun dengan kurs USD sekitar Rp 9.300 saat itu.
"Kasus saat ini tidak sama dengan yang dulu. Yang dulu kan jelas cross-ownership. Tapi kalau Qtel hengkang, lalu BUMN yang mau buyback, saya akan jadi orang yang paling bahagia duluan," kata Nonot Harsono, anggota BRTI lainnya.
Seperti diketahui, saham Indosat dengan kode ISAT ini dibuka di kisaran Rp 6.950 pada Senin kemarin, posisi ini bertahan hingga jelang siang. Namun jelang sore, saham Indosat turun menjadi Rp 6.850. Penurunan berlanjut hingga penutupan perdagangan di posisi Rp 6.650.
(rou/fyk)