Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Frekuensi Terbatas CDMA Bukan Hambatan

Frekuensi Terbatas CDMA Bukan Hambatan


- detikInet

Ilustrasi (hasan/detikfoto)
Jakarta - Ketersediaan frekuensi untuk layanan telekomunikasi dengan teknologi CDMA di Indonesia memang tak sebesar alokasi untuk teknologi GSM untuk seluler 2G dan 3G. Namun CDMA Development Group (CDG) menilai itu bukan hambatan untuk terus berinovasi.

"Kami telah membahas masalah ini bersama para operator CDMA sejak 10 tahun lalu. Dengan rata-rata lebar frekuensi 12,5 MHz yang dimiliki operator CDMA di Indonesia, harusnya itu bukan masalah, tapi jadi tantangan. Dengan tiga kanal itu harusnya kita tetap bisa melakukan sesuatu," kata James Person, Chief Operating Officer CDG, di Indonesia CDMA Broadband, Hotel Shangrila, Jakarta.

Ia pun menilai, peluang pasar bagi operator CDMA di Indonesia masih sangat besar meski belakangan pendapatannya kian terkikis karena kalah bersaing dengan operator seluler 2G dan 3G yang berbasis GSM.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebab menurutnya, pengembangan teknologi CDMA terus berkembang di dunia. Selain itu, permintaan layanan broadband yang semakin besar membuka kesempatan bagi operator CDMA untuk mengembangkan pasar melalui layanan data.

Di Indonesia terdapat tiga operator CDMA, yakni Flexi dari Telkom, Esia dari Bakrie Telecom, dan Smartfren Telecom. Rata-rata jumlah pelanggan ketiga operator tersebut kurang dari 20 juta pelanggan.

James mengatakan, teknologi CDMA yang ada saat ini dapat menjadi salah satu solusi bagi meningkatnya permintaan layanan broadband di masyarakat, terutama untuk layanan video streaming.

"Saat ini teknologi layanan CDMA telah berkembang dari CDMA 2000 ke EVDO Rev A, EVDO Rev B, dan akan berkembang lagi ke teknologi Data Optimized Advance," paparnya.

Berdasarkan data CDG, terdapat 331 operator telekomunikasi di dunia yang menggunakan teknologi CDMA 2000 dengan jumlah pengguna hingga 626 juta pelanggan.

Terdapat 210 operator di dunia yang menggunakan teknologi EVDO dengan jumlah pelanggan mencapai 200 juta. Hingga 2015 diperkirakan pengguna layanan EVDO mencapai 500 juta pengguna dengan pengapalan perangkat EVDO mencapai 300 juta unit.

James menjelaskan peluang pasar layanan seluler teknologi CDMA di Indonesia masih tinggi, sebab penetrasi pengguna CDMA di Indonesia masih sedikit dibandingkan dengan pengguna GSM.

Ia menilai 240 juta penduduk Indonesia merupakan pasar potensial CDMA, dan merupakan pasar terbesar dari negara mana pun di kawasan Asia Tenggara.

"Di Indonesia, teknologi EVDO baru masuk pada 2010 dan terus berkembang. CDG berkomitmen untuk terus bekerja sama dengan operator CDMA di Indonesia," pungkasnya.

(rou/ash)





Hide Ads