Menurut mantan anggota komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi, angka Rp 160 miliar dengan tambahan BI rate masih dapat diterima sebagai harga aktual dari tambahan kanal 3G yang sebelumnya diberikan 2009 lalu.
"Sebab jika terlalu mahal, imbasnya akan turut membebani konsumen pada akhirnya," jelas Heru yang kini menjadi peneliti di Indonesia ICT Institute, kepada detikINET di Jakarta, Selasa (12/6/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lelang yang menggunakan metode beauty contest, menurut Heru masih bisa diterima oleh semua pihak sepanjang prosesnya transparan dan parameter penilaiannya dapat dipertanggungjawabkan.
"Yang utama penting sebagai parameter adalah efisiensi spektrum sebagai rasio antara spektrum yang dimiliki dan jumlah pengguna," kata dia.
Sebelumnya, Dirjen Sumberdaya dan Pemanfaatan Perangkat Informatika Kementerian Kominfo Muhammad Budi Setiawan menyatakan, harga Rp 160 miliar ditambah BI rate untuk beauty contest 3G sudah cukup fair.
"Kita masih kasih harga Rp 160 miliar plus BI rate. Soal yang bilang terlalu mahal, kita sudah jelaskan tiap hari iniΒ nggak murah. Bila melihat India misalnya, mereka bayar triliunan tapi sekali doang. Kita kan bayar per tahun lalu bayar lagi," jelasnya.
Menkominfo Tifatul Sembiring juga menegaskan bahwa dua kanal 3G tersisa ini bukan dijual, namun hanya disewakan saja. Jadi, jika penyewa dua kanal ini diminta pindah untuk penataan ulang frekuensi 3G, semua operator harus bersedia.
"Awalnya kan Axis dan Hutchison terpisah, kita menjanjikan supaya contiguous. Oleh sebab itu lisensi ini kan tidak dijual tapi disewakan. Kalau ada pelanggaran ya dicabut. Isu 3G ini isu besar," tandas menteri.
(rou/ash)