Dengan mengudaranya satelit ini menjadikan anak perusahaan Lippo Group bisa menyelenggarakan siaran Direct-To-Home (DTH) ke seluruh Indonesia. First Media akan menjadi salah satu pengguna satelit Lippo Star.
Presiden Komisaris First Media Peter F Gontha mengungkapkan akan menggarap bisnis TV berbayar berbasis satelit guna memperluas pangsa pasar dan jangkauan konten yang dihasilkan oleh anak usaha PT First Media News (FMN).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami mendapatkan fasilitas name right. Untuk nilai investasinya belum bisa diungkap, tetapi biasanya bentuk kerjasama seperti ini sekitar USD 100 juta," ujarnya.
Di industri telekomunikasi, investasi untuk satelit termasuk peluncurannya memakan biaya sekitar USD 200 juta-USD 300 juta. Sedangkan satelit yang dimiliki dalam bentuk kerjasama, baik itu condosat atau name right, biasanya menelan investasi di kisaran USD 100 juta. Harga sewa satu transponder di kisaran USD 1,2 juta.
Peter menjelaskan, Lippo ingin menggarap bisnis TV berbayar satelit karena banyak konten hasil buatan FMN sendiri yang memiliki nilai jual.
"Jika berbasis kabel, First Media baru memiliki jangkauan di Jabodetabek. Sementara kita punya impian beberapa konten buatan in house bisa dinikmati nasional dan global. Apalagi kita juga akan membuat konten Asean TV yang ingin go global," jelasnya.
Lippo Star diluncurkan dari Ariane Launch Complex nomor 3 (ELA-3) milik Arianespace, di Kourou, Guyana, Prancis. Satelit akan langsung beroperasi mulai tahun ini, dengan masa aktif mencapai 15 tahun.
Satelit ini memiliki bobot 4,350 ton dan dibuat oleh Lockheed Martin Commercial Space System. Lippo Star akan mengorbit di posisi 124 derajat bujur timur, atau kira-kira di atas Jepang. Satelit bermuatan 44 KU-Band transponder ini memiliki daya cakup cukup luas, meliputi seluruh Indonesia, benua Asia, serta wilayah Oceania pada umumnya.
(rou/rou)