"Kami akan mengandalkan jasa data dan seluler untuk menopang pertumbuhan omset tahun ini. Data diperkirakan akan tumbuh 25%-30%, sementara seluler hampir sama dengan rata-rata industri, sekitar 6%-7%," ungkap Head Of Corporate Communication Affair Telkom Eddy Kurnia, Sabtu (31/3/2012).
Untuk jasa seluler, Telkom akan mengandalkan anak usaha Telkomsel dimana pada 2011 meraih omset Rp 48,73 triliun atau naik 6,90% dibandingkan 2010 sebesar Rp 45,57Β triliun. Hal ini sejalan dengan pertumbuhan pelanggan seluler pada 2011 yang mencapai 107 juta nomor atau naik 13,8% dibandingkan 2010.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pertumbuhan jasa data dikontribusikan oleh pendapatan layanan broadband sejalan dengan peningkatan pelanggan Speedy, Flash, dan BlackBerry dari Telkomsel. Pada 2011Β Telkom memiliki pelanggan broadband mencapai 10,47 juta, tumbuh 63,40% dibanding 2010 yang mencapai 6,41 juta," paparnya dalam siaran pers.
Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah mengungkapkan, pada 2011 Telkom berhasil meraih total omset sebesar Rp 71,3 triliun atau naik 3,8% dibanding 2010 sebesar RpΒ 68,62 triliun.
"Untuk pertumbuhan pendapatan secara keseluruhan, Telkom memiliki beban bisnis telepon kabel yang masih mengalami penurunan 10,2% dari Rp 12,94 triliun pada 2010Β menjadi Rp 11,62 triliun pada 2011," ujarnya.
Namun secara keseluruhan, menurut Rinaldi, pencapaian yang diraih oleh Telkom menyiratkan selalu adanya pertumbuhan positif di tengah persaingan yang semakin tajam.
Sementara Direktur Keuangan Telkom Sudiro Asno menjelaskan, kinerja bottom line perseroan pada 2011 banyak tertekan oleh biaya-biaya.
Telkom membukukan biaya ekstra (non-recurring) sekitar Rp 1,57 triliun yang terdiri atas: Biaya non-kas ekstra sebesar Rp 779 miliar untuk impairment aset sebesar RpΒ 563 miliar, dan percepatan depresiasi sarana pendukung serta modernisasi jaringan Telkomsel sebesar Rp 216 miliar.
Berikutnya, biaya kas ekstra sejumlah Rp 794 miliar dikeluarkan untuk mendanai program pensiun dini (Pendi) sebesar Rp 629 miliar yang diikuti oleh 762 karyawan danΒ penyesuaian kompensasi serta manfaat pensiun karyawan Telkomsel sebesar Rp 165 miliar.
Setelah memperhitungkan biaya kas ekstra, Telkom membukukan Earning Before Interests, Taxes, Depreciation and Amortization (EBITDA) sebesar Rp 36,56 triliun pada akhir 2011, atau turun 2,1% dibandingkan 2010 sebesar Rp 37,1 triliun.
Jika tanpa memperhitungkan biaya kas ekstra, EBITDA mencapai Rp 37,35 triliun atau tumbuh 1,4% dibandingkan 2010. Sedangkan laba bersih setelah adanya biaya ekstra Β menjadi Rp 11 triliun, atau turun 4% dibandingkan 2010 sebesar Rp 11,5 triliun.
"Jika tanpa memperhitungkan biaya ekstra sebesar Rp 1,57 triliun, laba bersih kami mencapai Rp 12,10 triliun atau tumbuh 6,9% dibanding 2010," jelas Sudiro.
(rou/rou)