Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Flexi Siap Tempur di Mobile Broadband

Flexi Siap Tempur di Mobile Broadband


- detikInet

Jakarta - Hampir semua operator beralih ke pasar data sebagai ladang pendapatan baru mereka. Termasuk Flexi, unit bisnis fixed wireless access (FWA) Telkom yang dulunya lebih mengandalkan pasar suara, kini juga dipersiapkan untuk bertempur di pasar mobile broadband.

Tak main-main, Telkom menyiapkan dana yang tak sedikit untuk amunisi Flexi. Setidaknya ada dana segar sekitar Rp 400 miliar untuk membangun mobile broadband berbasis teknologi Code Division Multiple Access (CDMA) Evolution Data Optimized (EVDO) di 20 kota di Indonesia hingga akhir Juni 2012 nanti.

"EVDO Flexi telah hadir di 10 Kota dengan menelan investasi sekitar Rp 200 miliar, sisanya lagi masih dibangun hingga Juni nanti. Untuk 20 Kota tidak akan menelan investasi besar karena semua infrastruktur telah siap EVDO," ungkap EGM Telkom Flexi, Mas’ud Khamid, Senin (13/2/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jumlah Kota yang akan dilayani EVDO bisa saja bertambah jika masyarakat memberikan tanggapan positif atas kehadiran teknologi tersebut. Flexi sendiri menggunakan perangkat teknologi dari vendor ZTE, Samsung, dan Huawei.

"Saat ini pelanggan Flexi sudah 16 juta nomor dengan Average Revenue Per User (ARPU) Rp 45 ribu. Sedangkan pelanggan data sebanyak 500 ribu nomor, dimana 100 ribu di antaranya menikmati broadband," kata Mas'ud.

Diharapkannya, pada akhir tahun nanti pengguna data Flexi mencapai satu juta nomor dimana 300-400 ribu diantaranya menikmati akses broadband melalui EVDO.

"Kami menyakini jasa data akan terus tumbuh karena di suara itu pasarnya sudah jenuh. Ruang bergerak di jasa data sangat besar karena baru 20% penetrasinya dari total populasi," katanya.

Skenario Konvergensi

Agar tetap bisa eksis di segmen telekomunikasi nirkabel, Telkom ternyata telah menyiapkan dua skenario untuk unit FWA dan selulernya.

"Kami akan sangat hati-hati menghadapi tren industri ke depan. Ada dua skenario yang tengah dikaji dan dimatangkan dengan anak usaha Telkom lainnya, yakni Telkomsel," ungkap Mas'ud.

Telkom telah menyadari, tren ke depan adalah teknologi Long Term evolution (LTE) yang akan menjadi senjata andalan. Maka dua skenario dipersiapkan untuk Flexi dan Telkomsel.

Pertama, menggunakan satu infrastruktur, tetapi memiliki dua merek dagang berbeda di pasar. "Ini sama dengan di industri penerbangan dimana satu maskapai memiliki dua produk. Ada yang menawarkan full services dan ada yang no frill," ungkapnya.

Kedua, menggunakan satu infrastruktur dan satu merek dagang. "Semua kemungkinan ini terus dikaji. Opsi pertama atau kedua, harus dikonsultasikan dengan pemilik lain dari Telkomsel yakni SingTel atau diselesaikan dengan cara buy back saham Telkomsel di SingTel," katanya.

Telkom, pada era terjadinya konvergensi antara layanan Fixed dan Mobile, diharapkan akan tetap menjadi pemimpin di pasar karena kekuatan grup akan memberikan solusi bagi pengguna.

"Kami telah menyiapkan diri menuju era konvergensi Fixed dan Mobile. Kami akan datang dengan harga yang terjangkau dan kecepatan maksimal di era broadband," tegasnya.

(rou/rou)







Hide Ads