Kabar lain yang beredar, pihak kepolisian kini juga tengah membidik satu eksekutif lainnya dari operator besar yang disinyalir memiliki rekening gendut.
Rekening dari eksekutif tersebut dianggap tidak wajar. Lantaran tidak mungkin dengan jabatan yang disandangnya bisa memiliki uang hingga ratusan miliar rupiah. Disinyalir itu uang yang menjadi setoran dari para mitranya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut aktivis Teknologi Informasi dan Komunikasi, Bona Simanjuntak, istilah silent charging cukup dikenal di kalangan CP dan operator dalam melakukan modus penggerusan pulsa untuk keuntungan yang pastinya lebih besar di sisi operator yang berbanding 40%β60%.
Modus silent charging adalah melakukan pendaftaran secara 'paksa'. Bila ditelisik memang terkesan random, padahal terstruktur rapi dengan berbagai metode filtering yang sebetulnya bisa dikaji lebih lanjut.
Salah satu metode filtering tersebut adalah memilih daftar pelanggan yang paling 'rajin' mengisi pulsa dan kemudian mempetakannya berdasarkan daerah serta sub-metode lainnya.
"Yang pada akhirnya terbentuklah sebuah data target yang valid dan bisa 'dirampok' bersama," tukas Bona kepada detikINET, beberapa waktu lalu.
Sementara sistem smart charging sebetulnya penjelmaan dari metode penggerusan pulsa terhadap pelanggan yang benar-benar ingin mengikuti layanan, tetapi tidak terus menerus.
"Aturannya jelas, ketika pelanggan tidak memenuhi persyaratan yang telah ditentukan -- dalam hal ini pulsa yang ada tidak memenuhi standar yang diberikan -- maka layanan harus dihentikan," kata Bona.
"Tetapi dengan mekanisme apa yang diistilahkan dengan smart charging ini justru pelanggan akan di-charge dengan paket yang lebih murah dan terus menurus terpotong hingga benar-benar habis," jelasnya.
(ash/rou)