"Kalo terbukti di situ ada anggota IMOCA, akan kita sidang dan kita pecat," tegas Ferrij Lumoring, SekJen IMOCA, usai jumpa pers soal kasus 'sedot pulsa' di kantor Kementerian Kominfo, Jakarta, Selasa (11/10/2011).
"Kami juga punya kode etik, dan itu semua dilakukan secara sukarela. Namun perkiraan saya, paling tidak setelah ribut-ribut kasus ini mereda, semua pada tiarap," lanjut dia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ferrij menjelaskan, bisnis penyediaan konten itu harus dilandasi kejujuran. Karena ini menyangkut kepercayaan pelanggan yang berani membayar mahal untuk konten-konten yang disediakan.
"Ini kan sekarang sudah gelombang ketiga, jangan lagi bisnis ini dihancurkan. Dulu saat premium call yang bagus-bagus seperti 'Halo Dokter' atau 'Telepon Sejarah', lalu muncul layanan 'Phone Sex', akhirnya dicap negatif," kata dia.
"Memang tak bisa dipungkiri, layanan yang bagus itu belum tentu jadi duit. Film 'Cut Nyak Dien' contohnya, kurang bagus apa film itu. Peraih penghargaan film terbaik. Tapi apa bisa jadi duit dengan bikin konten seperti itu?" keluh dia.
Ferrij pun meminta kepada pemerintah dan operator, untuk menghidupkan industri kreatif ini agar tidak mati dan tetap berjalan positif, industrinya kembali ditata. Baik dari soal kode etik, hingga soal regulasi yang tegas namun tidak memberatkan.
"Harusnya kami juga diberi kemudahan, yang bagus-bagus share-nya lebih diperbesar agar bisa tetap bertahan hidup. Kami juga agar dipermudah, jangan dianggap sebagai penyelenggara jasa telekomunikasi dan dibebankan BHP telekomunikasi yang besar," pungkas Ferrij.
(rou/ash)