Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Laporan dari Kuala Lumpur
'Biaya Ekosistem Lebih Mahal dari Bangun Broadband'
Laporan dari Kuala Lumpur

'Biaya Ekosistem Lebih Mahal dari Bangun Broadband'


- detikInet

Jakarta - Bukan lagi biaya untuk membangun infrastruktur jaringan pita lebar (broadband) yang kini dikhawatirkan industri. Namun lebih kepada upaya dan biaya yang diperlukan untuk membentuk ekosistem broadband itu sendiri.

Bagi negara seperti Indonesia, internet broadband baru hanya bisa dinikmati oleh banyak orang di wilayah barat saja. Sementara untuk wilayah timur, infrastruktur itu masih sangat langka. Itu sebabnya ada inisiatif untuk membangun akses di wilayah timur melalui Palapa Ring.

Namun, investasi sebesar Rp 5,5 triliun yang dihabiskan untuk Palapa Ring, diperkirakan Deputy Secretary General Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Teguh Anantawikrama, tidaklah cukup untuk membangun ekosistem broadband economy. Sebab, untuk mendorong penetrasi penggunaan dan pemanfaatannya bisa membutuhkan biaya yang tak kalah besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dorongan terhadap penetrasi broadband di Indonesia membutuhkan kesadaran akan broadband ekosistem. Nah, untuk menciptakan ekosistem itu bisa menghabiskan biaya sedikitnya tiga kali lipat dari Palapa Ring, sekitar Rp 16,5 triliun," ujarnya di sela Broadband Transformation Summit 2011, di Mandarin Oriental Hotel, Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (11/5/2011).

Di Bawah 5 Persen

Menurut Teguh, penetrasi broadband di Indonesia hingga kini tercatat masih di bawah 5%, dengan penggunaan oleh masyarakat yang masih sangat terbatas. Padahal, penetrasi broadband akan sangat menentukan pertumbuhan industri information and communication technology (ICT), mengingat broadband merupakan jaringan infrastruktur yang digunakan.

β€œYang penting adalah bagaimana mendorong semua orang menyadari pentingnya broadband. Mastel, Kadin, dan Kementrian Perekonomian telah menggagas broadband economy sebagai infrastruktur. Kebutuhan dananya bisa tiga kali lipat dari pembangunan fiber optik di wilayah Indonesia Timur,” ujarnya.

Teguh menyatakan broadband economy yang digagas tersebut nantinya akan menyediakan semua konten yang terkait dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari, mulai dari konten kesehatan, pendidikan, hiburan, dan lain sebagainya.

Dia menambahkan penyediaan terhadap berbagai konten tersebut menjadi penting karena masyarakat tidak akan menggunakannya ketika apa yang mereka butuhkan tidak tersedia.

Konten Dulu, Baru Jaringan?

Kondisi itu seperti terjadi pada Jaringan Pendidikan Nasional (Jardiknas) yang digelar oleh Kemendiknas beberapa waktu lalu, di mana konten yang disediakan tidak mampu memenuhi kebutuhan pendidikan, sehingga kecenderungan pemanfaatannya sangat rendah.

β€œKondisi seperti itu yang harus dihindari, karena akan banyak orang menyalahkan. Untuk apa disediakan broadband dengan bandwidth yang besar kalau tidak ada yang menggunakan. Itu akan berbalik kepada industri,” jelasnya.

Teguh menuturkan untuk penyediaan konten, Indonesia mungkin harus belajar dari Korea, di mana negara tersebut saat ini tercatat sangat berhasil dalam penyediaan konten, meski sempat ditertawakan akibat banyaknya penyediaan konten sebelum adanya jaringan.

Namun, hal itu justru menuai sukses karena ketika tersedia jaringan sudah banyak konten yang dapat dimafaatkan oleh masyarakat, sehingga terbentuk dengan sendirinya yang disebut dengan broadband ekosistem.

β€œUntuk pengembangan broadband, banyak hal yang harus dipelajari dari negara lain, meski tidak semuanya. Broadband ecosystem sangat penting untuk mendukung kemajuan ICT,” terangnya.


(rou/wsh)







Hide Ads