Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Telkomsel Keukeuh Terapkan Cluster untuk Pedagang Pulsa

Telkomsel Keukeuh Terapkan Cluster untuk Pedagang Pulsa


- detikInet

Jakarta - Telkomsel Jawa Barat akan tetap konsisten menerapkan cluster strategy. Hal ini diklaim dilakukan agar bisa menjamin kebutuhan serta melayani pelanggan dengan lebih dekat.

Dalam kesempatan berbincang dengan detikINET, Rabu (27/4/2011), GM Sales and Customer Service Telkomsel Regional Jabar, Erick Noviantoro mengungkapkan hal tersebut.

Menurutnya, dengan cluster strategy yang diterapkan sejak Oktober 2009 silam ini, membuat distribusi produk Telkomsel bisa lebih terjamin dan merata.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita lebih bisa melayani pelanggan di semua segmen dengan lebih dekat," katanya.

Disinggung mengenai sikap dari Masyarakat Pedagang Pulsa Indonesia (MPPI) yang menolak diberlakukannya sistem clustering ini, Erick mengungkapkan bahwa sebenarnya tidak ada yang dirugikan dalam hal ini. Bahkan justru akan tercipta keadilan bagi pedagang pulsa.

"Semuanya kebagian kok. Cuma jatahnya kita atur per wilayah," jelasnya.

Hard cluster yang diterapkan oleh Telkomsel membatasi distribusi pulsa yang dapat diterima pedagang, yakni setiap pedagang hanya dapat memperoleh pasokan dari distributor yang berada dalam satu cluster dengan jangkauan 3-4 kecamatan sesuai dengan posisi BTS nomor telepon di mana pelanggan berada.

Strategi ini, ditambahkan oleh Erick, juga sebagai upayanya untuk mempertahankan serta meningkatkan raihan prestasi yang sudah dicapai. Seperti diketahui, Telkomsel baru saja mendeklarasikan pencapaian 100 juta pelanggan secara nasional. Sumbangan regional Jabar pun signifikan dalam capaian tersebut.

"Kita sumbang 12 persen dari share secara nasional. Sedangkan untuk revenue di Jabar pada kuartal pertama tumbuh dua digit. Serta untuk pertumbuhan broadband, dongle kita mencapai 15 persen new costumer," ungkapnya.

Catatan detikINET, kuartal 1 tahun lalu revenue broadband Telkomsel Jabar melesat. Dari yang sebelumnya hanya Rp 3 miliar, langsung melonjak menjadi Rp 5 miliar. Pertengahan semester menjadi Rp 7 miliar dan tutup tahun dengan mencatat angka Rp 11 miliar. Tahun 2011 ini, targetnya pun dilipat.

"Resep sama, tapi mengolahnya harus rahasia. Capaian pertumbuhan broadband kita itu hasil edukasi Flash On yang dilakukan setahun lalu," terangnya.

Bagi Erick, pencapaian 100 juta pelanggan bukanlah hal yang mudah dalam menjaganya. Karena baginya operator selular yang mampu melayani 100 juta pelanggan merupakan operator yang sudah dapat mentransformasi 100 juta pelanggan menjadi pengguna.

"Apa yang disediakan operator bukan lagi layanan dasar, tetapi layanan-layanan baru yang telah disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pelanggan sehingga bersifat lebih personal," terangnya.

Di tengah pasar yang mulai memasuki tahap jenuh, angka 100 juta pelanggan ini dipandang Erick sebagai hal yang penting. "Beruntung kita sudah memiliki pondasi kuat dan paling siap untuk melangkah beyond telecommunication dengan layanan yang berpusat pada data," bebernya.

Dalam upaya transformasi tersebut, di tahun 2011 Telkomsel menginvestasikan belanja modal senilai USD 1,1 miliar atau setara dengan Rp 10,9 triliun. Dimana 60 persen di antaranya dialokasikan untuk peningkatan layanan broadband.

"Kita serius untuk memberikan kepuasan kepada pelanggan dalam memanfaatkan layanan mobile lifestyle Telkomsel," tukasnya.

(afz/ash)





Hide Ads