"Haruslah kita maklumi, di Indonesia karakter para pelaku industri seluler dan pelaku industri secara umum masih sulit diajak bersinergi di antara sesamanya. Kebanyakan masih cenderung ekslusif menjadi penyelenggara sendiri," keluh Ketua Umum Mastel Setyanto P Santosa.
"Padahal kalau mereka bergabung, akan lebih menguntungkan, contohnya dari sisi sinergi infrastruktur," paparnya di sela acara Seminar Indonesia Mobile Payment, Financial and Digital Inclusion, Challenges and Opportunities, di Mercantile Athletic Club, WTC Sudirman, Jakarta, Rabu (6/4/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebab, di negara berkembang, saat ini masih banyak konsumen yang tidak dapat menjangkau layanan perbankan. Ini dikarenakan, institusi perbankan dihadapkan pada kendala dalam membuka kantor cabang di wilayah-wilayah terpencil.
"Kalau bisa lebih cepat bersinergi tentu lebih bagus," kata Budiman Poedjirahardjo, Head of Card Merchant & Mortgage, Global Consulting Center, CIMB Niaga.
Ia sendiri mengakui bahwa selama ini industri bank dan operator telekomunikasi tengah dihadapkan dalam kondisi persaingan memperebutkan pasar micropayment.
Nah, ego "telko-sentris" dan "bank-sentris" itu pula yang dinilai masih jadi kendala dalam keberhasilan industri mobile payment di Indonesia.
"Indonesia tak kekurangan suatu apapun untuk menjalankan industri mobile payment. Infrastruktur ada, pelanggan juga ada baik dari pelanggan operator maupun nasabah bank," kata Ernest Lo, Senior Client Partner, Head of Mobile Money Solution Huawei.
"Yang kurang hanya bagaimana membangun ekosistemnya dan bagaimana menyinergikannya antara regulator, operator telekomunikasi, bank, merchant, dan komunitas pengguna," demikian pendapatnya.
(rou/eno)