"Kami masih melakukan pengkajian dan evaluasi apakah akan menggunakan sisa frekuensi 60 MHz di pita 2,3 GHz untuk LTE. Namun belum ada keputusan," kata Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi di sela demo LTE Ericsson di Wisma Ericsson, Jakarta, Selasa (14/12/2010).
Saat ini Indonesia baru memulai uji coba terbatas untuk LTE. Mulanya, frekuensi yang digadang-gadang paling tepat untuk LTE ada di frekuensi 2,6 GHz. Namun sayangnya, pita frekuensi itu masih ditempati oleh grup MNC yang menguasai 150 MHz.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alhasil, opsi ketiga pun jatuh pada 2,3 GHz yang masih tersisa 60 MHz. Saat ini, dari rentang 100 MHz, 30 MHz di antaranya sudah dialokasikan untuk operator broadband wireless access Wimax 16d, sedangkan 10 MHz sisanya untuk pemenang tender Universal Service Obligation (USO).
"Kami masih mengkaji apakah 60 MHz itu akan kami berikan secara lelang untuk TDD LTE atau Wimax 16e," kata Heru menjelaskan.
Di negara lain, mayoritas menggunakan frekuensi 2,6 GHz. Namun ada juga yang menggunakan frekuensi 2,3 GHz untuk komersialisasi LTE seperti China dan India. Ericsson sebagai salah satu vendor LTE, menyatakan bisa memenuhi kebutuhan teknologi dengan frekuensi yang fleksibel.
"Selain 2,6 GHz, 2,3 GHz, dan 700 MHz, LTE juga bisa menggunakan frekuensi refarming dari teknologi 2G dan 3G sebelumnya, seperti 900 MHz, 1800 MHz, 2,1 GHz," tandas Mats Otterstedt, Presiden Direktur Ericsson Indonesia.
(rou/ash)