Menurut VP Marketing Corporate Communication Telkom, Edi Kurnia, posisi rencana merger tersebut sekarang masih dalam kajian internal. Tentu saja di dalamnya ada beberapa progres yang perlu didiskusikan secara mendalam.
"Salah satu fokus terpenting, antara lain adalah mengenai sumber daya, terutama karyawan. Kami berhati-hati membahas soal ini karena prinsipnya tidak merugikan karyawan," tukasnya kepada detikINET, Selasa (30/11/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Prosesnya memerlukan waktu, artinya masalah ini strategis sehingga pasti matang. Percayalah, semuanya akan diputuskan terbaik," ia menandaskan.
Dibanding Bakrie Telecom, Sekar Telkom memang jauh lebih nyaring menyuarakan penolakannya atas rencana merger ini. Aksi terbaru mereka adalah mendatangi Istana Negara dan Kementerian BUMN agar pendapatnya didengar.
Sekar menduga rencana merger Flexi dan Esia ini belum mendapat persetujuan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). "Proses merger ini merupakan aksi sepihak Kementerian BUMN dan Komisaris Utama PT Telkom. Presiden SBY saya kira belum benar-benar memahami proses merger tersebut yang sebenarnya adalah menjual aset negara," sesal Asep Mulyana, Sekjen Sekar Telkom kepada wartawan di silang Monas, Jakarta, Selasa (30/11/2010).
Menurutnya, aksi korporasi berupa merger akuisisi tersebut seharusnya dilakukan antar direksi perusahaan saja, dan tidak perlu ada pihak eksternal seperti dari Kementerian BUMN.
"Kami menolak tegas merger akuisisi ini. Jika masih diteruskan, Sekar Telkom akan mengerahkan 22.000 anggota yang tersebar di seluruh Indonesia untuk menolak," ancam Asep yang dalam kesempatan ini membawa 400-500 anggotanya untuk demo di depan Istana Negara.
(ash/fyk)