Di sela kesempatan Intel South East Asia Media Workshop 2010, di Sunway, Malaysia, Selasa petang (29/6/2010), detikINET mendapat kesempatan untuk menjajal langsung Wimax milik Packet One Networks (P1), operator broadband wireless access 2,3 GHz di Malaysia.
Tidak dalam keadaan diam, Wimax milik P1 dicoba dalam keadaan bergerak alias mobile di atas minibus dengan kecepatan 40 km per jam. DetikINET dipinjamkan netbook Acer Aspire One yang sudah tertanamkan (embadded) chipset Wimax oleh Intel untuk mencoba kecepatan koneksi aksesnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk mengecek kecepatan koneksinya detikINET menggunakan tools dari situs speedtest. Lumayan, speed koneksi yang didapat bisa sampai 3,7 Mbps dalam keadaan bergerak di atas bus -- meski sopir bus kerap memperlambat laju kendaraan walau kondisi jalan tak macet.
Di suatu tempat di sekitar perumahan dan perkantoran di area Sunway, koneksi sempat terputus. "Coverage kami di daerah ini memang belum terlalu bagus. Namun secara keseluruhan coverage kami sudah menjangkau 40% wilayah di Malaysia," jelas petugas operator P1 yang ikut di dalam bis.
Sayangnya, waktu yang disediakan untuk ujicoba jaringan Wimax P1 ini terlalu terbatas. Rasanya tidak cukup untuk mengeksplorasi kemampuan jaringan broadband ini hanya dalam waktu 10-15 menit perjalanan. Apalagi kondisi bus yang bergerak cukup menyulitkan untuk browsing internet sambil memangku netbook.
Sehingga, user experience untuk Wimax saat berkendara baru sebatas untuk menonton video streaming lewat YouTube saja. Belum sampai pada tahap mengunggah video, foto, dan lain sebagainya di sejumlah situs yang "rakus" bandwidth.
Sejak akhir 2008 lalu, P1 telah menggelar 800 base transceiver station (BTS) Wimax yang menjangkau bagian timur dan barat Malaysia. Menurut CEO P1, Michael Lai, perusahaannya telah memiliki 175 ribu pelanggan dengan pendapatan ARPU (average revenue per user) 80 Ringgit Malaysia (RM) atau sekitar Rp 230 ribu.
"Kami merupakan perusahaan baru yang membangun jaringan Wimax dari nol, bukan operator existing yang sudah punya legacy jaringan 2G maupun 3G. Memang kami sempat kesulitan saat roll out di awal, namun akhirnya kami bisa berkembang. Kuncinya adalah yakin pada kemampuan dan melakukan yang terbaik," kata Lai kepada detikINET di sela kesempatan itu.
P1, anak perusahaan Green Packet, merupakan satu dari empat pemenang beauty contest untuk lisensi Wimax di Malaysia. Tiga lainnya adalah Redtone International, Asiaspace Dotcom (belum komersial) dan YTL e-Solutions (baru akan meluncur Juli 2010). Namun dibanding tiga perusahaan itu, kata Lai, cuma P1 yang punya lisensi Wimax nasional.
Untuk 800 unit base station -- belum termasuk backbone serat optik, IP core, dan lainnya -- P1 telah menginvestasikan US$ 100 juta lebih. P1 bersama tiga operator lainnya masing-masing mendapatkan lisensi frekuensi Wimax 30 MHz. Sementara di Indonesia, frekuensi yang dikantungi masing-masing operator cuma 15 MHz.
Untuk mendapatkan lisensi tersebut, P1 dan tiga operator lainnya itu memenangkannya lewat beauty contest. Mereka hanya mempresentasikan rencana bisnisnya. Karena dinilai punya business plan yang bagus untuk penetrasi broadband di Malaysia, maka diberikanlah lisensi Wimax 16.e tersebut.
"Untuk performance bond, P1 harus membayar 7 juta RM (sekitar Rp 20 miliar) dan untuk lisensinya 8 juta RM (sekitar 23 miliar)," ungkap mantan petinggi P1 yang tak mau disebut namanya, di lain kesempatan.
P1 menawarkan akses Wimax berbasis volume base, belum unlimited. Untuk pelanggan prabayar, tarif yang dikenakan dalam hitungan per kilobit. Sementara untuk pascabayar, P1 menawarkan kuota sekitar 20-30 GB dengan tarif 88 RM atau sekitar Rp 250 ribu per bulan.
(rou/ash)