Suwono, Division Head Technical Support Indosat mengatakan, kedua sumber daya alam tersebut -- angin dan matahari -- memiliki kekuatan yang tak terbatas. Sehingga sangat memungkinkan untuk dimanfaatkan menjadi sumber tenaga di sel baterai tower telekomunikasi.
Hanya saja, tidak semua wilayah di Indonesia bisa mengadopsi teknologi BTS alternatif ini. Sebab, harus memiliki tiupan angin yang kencang dan panas matahari yang menyengat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diakui Suwono, biaya untuk membangun BTS bertenaga alternatif sekitar Rp 1 miliar atau lebih mahal ketimbang BTS konvensional.
"Namun teknologi ini efektif dan hemat. Dalam uji coba ini kita ingin tahu reliability-nya dulu, kalau sukses maka bisa diperluas," pungkasnya.
(ash/faw)