Senior Director of Services GSMA, Jaikishan Rajaraman, mengatakan operator tersebut sejatinya masih bisa menggunakan vendor jaringan 3G sebelumnya untuk meningkatkan (upgrade) kapasitas jaringan.
"Upgrade 3G ke HSPA+ tanpa swap (mengganti) vendor pun tak mengapa. Sebab, alat untuk HSPA+ sudah ada di Node B. Operator hanya perlu membayar lisensi tambahan ke vendor untuk kemudian diinstal software-nya," jelas dia dalam jumpa pers di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Rabu (11/11/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rajaraman menilai bahwa investasi yang dikeluarkan Telkomsel untuk HSPA+ seharusnya tak semahal itu jika tidak melakukan swap vendor. "Namun kebijakan soal swap vendor sebaiknya dikonfirmasi langsung kepada pihak Telkomsel," tegas dia.
VP Channel Management Telkomsel Gideon Edie Purnomo mengungkapkan tak hanya akan menggunakan satu vendor untuk menggelar HSPA+ di seluruh Indonesia. "Kami selain Huawei juga akan menggunakan perangkat Ericsson, Nokia Siemens Network, dan juga ZTE. Namun saya masih belum tahu masing-masing akan di daerah mana."
Sementara Chief Marketing Officer Indosat menegaskan investasi yang dikeluarkan pihaknya untuk HSPA+ tak akan menghabiskan biaya triliunan rupiah seperti yang akan digelontorkan Telkomsel. Sebab, HSPA+ dinilai hanya sebagai fitur tambahan.
"HSPA+ itu hanya fitur software, BTS-nya sama dengan BTS HSDPA yang sudah ada. Artinya, infrastructure hardware menggunakan yang sudah ada. Kalau untuk fitur HSPA+ saja kami tidak sampai triliunan rupiah. Sebab, kami tidak swap, hanya dibangun di atas platform yang ada," pungkas dia. (rou/faw)