Fenomena Nexian Terus Berlanjut

Fenomena Nexian Terus Berlanjut

- detikInet
Jumat, 06 Nov 2009 18:32 WIB
Jakarta - Bukan kali ini saja, ponsel Nexian yang dipasarkan secara bundling dengan kartu telepon milik operator, laku keras diantre ribuan calon pembeli. Fenomena ini sejatinya telah berlangsung sejak awal pertengahan tahun 2009 ini.

Sejak bekerja sama dengan Excelcomindo Pratama (XL) pada awal Mei 2009 lalu, Nexian kemudian berturut-turut menggandeng Indosat, Telkomsel, bahkan Telkom Flexi, untuk memasarkan ponsel besutannya yang diimpor dari China.

Hasilnya, kata Presiden Director PT Metrotech Jaya Komunika, Martono Jaya Kusuma--produsen Nexian, perusahaannya sejauh ini telah menjual lebih dari satu juta unit.

"Mau saya sampai akhir tahun ini target masih bisa terjual sampai dua juta unit," ujarnya di sela antrean salah satu produk ponselnya, di mal Grand Indonesia, Jakarta, Jumat (6/11/2009).

Martono optimistis barangnya masih akan laku keras. Sebab, asumsi dia, jika sedikitnya 10% dari 120 juta pemilik ponsel di Indonesia membeli ponsel Qwerty baru, potensi pasar yang tersedia ada 12 juta.

"Nah, saya kira sampai akhir tahun nanti tak sampai lima atau enam juta unit ponsel Qwerty di pasaran yang berhasil terjual," kata dia.

Meski demikian Martono tetap saja bangga. Sebab, menurutnya, prestasi penjualan yang dicapainya, telah jauh melampaui para kompetitor yang katanya mencapai 20 merek, termasuk ponsel keluaran Eropa. "Bahkan melebihi penjualan BlackBerry di Indonesia."

Nexian tentu tak ingin fenomena ponselnya berhenti sampai di sini. Meski Martono yakin ponsel Qwerty tetap akan diminati pada 2010 mendatang, namun ia mengakui perlunya nilai tambah fitur baru yang menjadi modal dicarinya ponsel merek lokal yang dipasoknya.

"Fitur pada ponsel Qwerty jelas harus ditambah. Tidak bisa hanya mengandalkan fitur yang itu-itu saja. Ke depan, Facebook dan Twitter mungkin sudah jadul (ketinggalan zaman-red). Jadi kami harus mengeluarkan inovasi baru," jelasnya.

Inovasi yang dimaksud pria parlente ini tentu tetap mengacu pada kebutuhan dan permintaan pelanggan. Untuk hal itu, Nexian tinggal mengkustomisasi ponsel yang akan dirilisnya, termasuk menambahkan fitur yang dipesan operator.

Kebanggaan Lokal

Meski hampir semua komponen elektroniknya dipasok dari China, namun Martono bersikeras bahwa sistim operasi dan aplikasi yang dibenamkan pada seluruh ponselnya, murni buatan dalam negeri. "Kami menggunakan open source untuk menyediakan fitur sesuai kebutuhan lokal."

"Terus terang kami belum mampu bikin komponen sendiri. Namun setidaknya kami sudah berupaya memenuhi kebutuhan konten lokal dari sisi perakitan, casing, dan software. Ingat, komponen utama ponsel itu tak hanya di hardware, tapi juga software. Dan software kami sudah sentuhan lokal," papar Martono.

Salah satu alasan yang dikemukan bos Nexian ini tentang masih diimpornya komponen elektronik adalah lebih tingginya pajak ponsel jadi buatan sendiri ketimbang impor barang masuk. "Pajaknya 5-15% lebih mahal, tergantung komponennya."

Ia pun belum melihat adanya insentif nyata dari pemerintah untuk membesarkan industri ponsel dalam negeri. "Kalau pemerintah benar-benar serius, mereka seharusnya memberikan preferensi kepada merek lokal untuk ikut tender. Jangan belum apa-apa sudah tidak percaya, bagaimana kita bisa tumbuh."

Jauh di dalam lubuk hati Martono mengakui, potensi ponsel lokal menjadi raja di negeri sendiri tetap ada, asalkan mendapat dukungan dari semua kalangan. "Saya ingin Nexian lebih dikenal sebagai ponsel lokal. Tak hanya Nexian, saya Ingin semua merek lokal tumbuh."

"Asumsinya, jika pemain di pasar sudah memiliki kualitas dan kuantitas yang banyak, dengan brand yang kuat, kami juga punya bargain power untuk membangun di dalam negeri, misalnya punya pabrik ponsel sendiri."

"Dan saya rasa itu bukan tidak mungkin terjadi. Ponsel China merek lokal dalam dua tahun terakhir ini meraih kepopuleran yang luar biasa," tandas Martono.

Semoga saja!
(rou/wsh)