Saat ini, baru Telkomsel dan Indosat yang menyatakan kesiapannya menggelar akses data yang kecepatannya dijanjikan sampai 21 Mbps tersebut.
Telkomsel mengklaim telah mengkomersilkan jaringan tersebut di sejumlah titik area Jabodetabek. Sementara Indosat baru akan mengkomersilkannya akhir 2009 nanti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagian kalangan menyayangkan biaya Rp 1,3 triliun hanya dihabiskan Telkomsel untuk HSPA+ yang kecepatan dan kapasitasnya belum teruji.
"ββUseless alias mubazir," cetus praktisi dan pengamat telematika Ventura Elisawati mengemukakan pendapatnya soal investasi mahal HSPA+ pada detikINET, Kamis (5/11/2009).
"Kenapa, karena orang atau pengguna untuk pemakaian wajar juga nggak butuh speed secepat itu. Dan di Indonesia, pelanggan nggak pernah benar-benar mencapai speed ideal yang dimaksud," jelas dia.
Ventura yang sempat menjadi petinggi salah satu operator seluler berpendapat, operator rela mengeluarkan investasi demikian besar, kemungkinan hanya untuk memoles citra perusahaan. "Untuk image saja bahwa sudah pakai teknologi itu."
Langkah Telkomsel dalam menggelar jaringan HSPA+ juga sempat dipertanyakan Eka Indarto, Ketua Bidang Riset Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII).
Menurut Eka, Telkomsel tak perlu jor-joran dalam belanja perangkat. Sebab, menurutnya, perangkat yang ada bisa jadi masih sangat layak untuk dipakai.
"Daripada tergesa-gesa membeli perangkat yang sangat mahal, lebih baik Telkomsel melakukan audit perangkat terlebih dahulu," kata Eka melalui email.
Ia juga mempertanyakan jika langkah Telkomsel ini berdampak pada pergantian vendor secara menyeluruh.
"Dari sisi teknologi, sangat tak wajar bila sebuah operator telekomunikasi dan internet mengganti secara total vendor. Sebab, kompatibilitas dan kesiapan teknisnya kerap terganggu. Ujung-ujungnya, layanan kepada pelanggan bisa jadi akan terganggu," lanjutnya.
Selain itu, masih kata Eka, HSPA+ mungkin belum akan maksimal bagi pelanggan. Masalahnya, meski kemampuan jaringan bisa saja di-upgrade mencapai 21 Mbps, kebanyakan perangkat yang ada di pasaran belum mampu mendukung.
Keterbatasan itu antara lain di sisi terminal modem, jangkauan Node B, traffic control di Packet Core Network, Extended QoS profile di HLR, dan bandwidth limitation RNC ke Node B
"Saya sangat khawatir jika investasi yang luar biasa besar itu akan mubazir," tandas Eka.
(rou/ash)