Kecepatan tinggi dengan tarif terjangkau, itu yang selalu dijanjikan oleh operator saat menjajakan layanan akses internetnya ke masyarakat. Namun hal tersebut justru menjadi bumerang bagi operator sendiri. Karena terbukti pelanggan terus dikecewakan.
Sebut saja layanan Telkomsel Flash milik Telkomsel yang saat ini sedang menuai kritik dari pelanggannya. Atau IM2 Broom milik PT Indosat Mega Media (IM2) yang sebelumnya juga menuai protes pelanggannya. Keluhan ini muncul karena apa yang dijanjikan oleh operator tidak sesuai dengan kenyataannya. Operator cenderung hanya memperhatikan kepentingan bisnisnya semata tanpa melihat kepentingan pelanggannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika ada yang bisa memberi kecepatan tinggi di awal, layanan biasanya perlahan menurun seiring peningkatan jumlah pelanggan. Sementara yang menonjolkan tarif murah, akhirnya lebih mudah mengecewakan penggunanya. Tidak ada yang bisa memberikan layanan sesuai iklan yakni tarif terjangkau dan kecepatan tinggi secara konsisten," katanya.
Menurut Ummah, situasi itu terjadi karena dua hal. Pertama, alokasi frekuensi milik operator sudah tidak mampu melayani lonjakan permintaan sebagai dampak meledaknya situs jejaring sosial di masyarakat. Serta yang kedua, karena operator seluler kesulitan memprediksi tingkat trafik layanan data yang trennya sangat fluktuatif dan tidak sama dengan tren pertumbuhan layanan percakapan ataupun pesan singkat pendek/SMS.
"Oleh karenanya, demi kepuasan bersama dan kebaikan operator itu sendiri, sebaiknya jangan terlalu memberi janji berlebih dalam promosi. Bila over promise, yakinlah masyarakat akan menghukum dengan caranya sendiri," ujarnya.
Sharing Vision sendiri merekomendasikan operator harus menyeimbangkan peningkatan kapasitas dan jaringan dengan gencarnya promosi yang dilakukan, sehingga akumulasi kekecewaan tidak berlanjut.
"Jangan kecewakan pelanggan. Karena sekarang pelanggan sudah pintar," pungkasnya.
(afz/faw)