Kepala Pusat Informasi Depkominfo Gatot S Dewa Broto menjelaskan, izin impor seri terbaru hanya diberikan kepada operator dan importir resmi yang terafiliasi dengan Research in Motion (RIM). Itu pun setelah sang produsen ponsel kelar membangun layanan purna jualnya di Indonesia.
Adapun operator dan importir yang menjadi mitra resmi RIM di Indonesia adalah Indosat dan Indosat Mega Media (IM2), Excelcomindo Pratama (XL), Telkomsel, Natrindo Telepon Seluler (Axis), Malifax Indonesia, serta Erajaya Swasembada.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya diberitakan, BlackBerry Gemini telah beredar di pasaran bebas sejak beberapa minggu lalu. Di Bandung, misalnya. Padahal, pencekalan izin impor baru dibuka kembali Agustus lalu. Dan operator yang menjadi mitra RIM, sejatinya baru bisa menghadirkan ponsel tersebut pada Oktober mendatang.
Pengamat telekomunikasi Ventura Elisawati mempertanyakan mengapa perangkat terbaru pabrikan Kanada tersebut masih bisa masuk ke Indonesia meski izin impor masih dicekal. "Barang BM (black market) atau kecolongan lagi nih pemerintah?" cetusnya.
"Dari hitung-hitungan waktu, artinya waktu sertifikat impor Gemini RIM dicekal, ada importir lain yang lolos. Sebab, rata-rata barang operator baru ada minggu kedua Oktober, Gemini baru masuk," Ventura coba menganalisa.
Sementara Gatot tak mau langsung mengambil kesimpulan mengenai kemungkinan itu. "Kami akan melacak apakah BlackBerry Gemini itu masuk lewat re-seller atau black market. Kasus ini menjadi masukan berharga buat kami," tandas dia.
Selain Gemini, seri terbaru BlackBerry yang akan masuk ke pasar ponsel di Indonesia adalah Onyx. Sejumlah operator juga sudah kedapatan tengah menguji coba produk perpaduan Curve dan Bold ini. Sementara untuk BlackBerry Tour, operator masih menepis rumor kedatangannya.
(rou/ash)