"Vendor kabel optiknya keberatan karena terlalu mepet waktunya. Lagi pula di September akhir nanti, orang-orang juga masih dalam suasana Lebaran," ujar Plt Dirjen Postel itu di gedung Depkominfo, Jakarta, Selasa malam (8/9/2009).
Setelah hampir terancam batal, angan Palapa Ring akhirnya tetap bisa berjalan setelah Telkom merelakan dirinya sebagai pionir pembangunan ini tanpa disokong dua anggota konsorsium lain yang tersisa, yakni Indosat dan Bakrie Telecom.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Palapa Ring sendiri tadinya akan dibangun tujuh perusahaan telekomunikasi yang membentuk satu konsorsium. Selain Telkom, Indosat, dan Bakrie Telecom, anggota lainnya adalah Excelcomindo Pratama (XL), Infokom Elektrindo (bersama Mobile-8 Telecom), Powertek Utama Internusa (representasi Linbrooke Worldwide Ltd).
Namun seiring waktu, satu persatu anggota konsorsium terus berguguran. Terakhir yang paling mengejutkan adalah mundurnya XL. Alhasil, dana patungan proyek yang tadinya dianggarkan US$ 225 juta, menyusut jadi tinggal US$ 150 juta saja. Dana itu merupakan urunan dari Telkom US$ 90 juta, Indosat US$ 30 juta, dan Bakrie Telecom US$ 30 juta
Dalam roadmap awalnya, Palapa Ring merupakan megaproyek pembangunan tulang punggung (backbone) serat optik yang terdiri dari 35.280 kilometer serat optik bawah laut (submarine cable) dan 21.708 kilometer serat optik bawah tanah (inland cable).
Kabel backbone internasional yang terdiri dari 7 ring melingkupi 33 provinsi dan 460 kabupaten di kawasan timur Indonesia. Setiap ring itu nantinya akan meneruskan akses frekuensi pita lebar dari satu titik ke titik lainnya di setiap kabupaten.
Akses tersebut akan mendukung jaringan serat optik berkecepatan tinggi dengan kapasitas 300 Gbps hingga 1.000 Gbps.
(rou/faw)