Btel dan Mobile-8 Telecom sama-sama menempati spektrum 800 MHz. Keduanya, sebelumnya, sama-sama dapat alokasi tujuh kanal. Namun, jatah kanal kedua operator ini jadi berkurang setelah Telkom dan Indosat mengungsi ke spektrum mereka akibat gusur-gusuran frekuensi di 1900 MHz untuk 3G.
Lewat Permenkominfo No 186/2006, keempat operator FWA (fixed wireless access) itu saling berbagi frekuensi secara berpasangan. Telkom dengan Btel, dan Indosat bareng Mobile-8 Telecom.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan Telkom dan Btel masing-masing tiga kanal. Telkom untuk FWA Flexi, Btel untuk FWA Esia dan Wifone, serta akses internet Wimode. Kanal ini jelas tidak cukup bagi Btel, khususnya setelah mereka dapat lisensi FWA nasional. Imbasnya, layanan internet Wimode operator ini terpaksa dikorbankan demi penyelenggaraan akses penggilan suara Esia.
Tidak cukup pula bagi Telkom yang ingin menggenjot layanan data. Sebab, dua kanal yang tersisa di 800 MHz, yakni di kanal 160 dan 548, masing-masing sudah ditetapkan dijadikan guard band pembatas masing-masing operator pasangan frekuensi itu. Padahal sebelumnya, kedua kanal itu akan dihadiahkan kepada operator yang dapat penilaian kinerja terbaik.
Fakta bahwa pelanggan Btel akan stagnan--karena terbatasnya kapasitas kanal, ini pula yang membuat rumor mereka tengah bersiap mengakuisisi Mobile-8 semakin kencang. Hal ini diakui oleh sejumlah mantan eksekutif Btel. Konon, belum tercapai kesepakatan karena Btel harus menanggung semua hutang dan karyawan Mobile-8, meski yang diincar cuma kanal frekuensi beserta lisensinya saja.
Nah, dengan ditemukannya kanal tersembunyi 1019, itu artinya ada kanal yang bisa membuat Btel kini bisa 'bernafas' lagi tanpa harus mengakuisisi Mobile-8.
"Nanti, Btel dan Telkom bisa sharing kanal tambahan ini. Btel pakai di Jabodetabek, Jabar dan Banten, sementara Telkom yang di luar ketiga area itu dengan cakupan nasional," kata Mohammad Ridwan Effendi, anggota komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) kepada detikINET, Selasa (1/9/2009).
Ketika dikonfirmasi detikINET tentang semua ini, Direktur Korporat Bakrie Telecom Rakhmat Junaidi malah mengaku belum tahu tentang adanya kanal yang bisa jadi 'penyambung hidup' perusahaannya. "Sejauh ini kita belum menerima surat pemberitahuannya," jawabnya tanpa mau menanggapi rencana akuisisi Mobile-8.
Sementara Telkom yang sangat ini bisa menambah kapasitas untuk menggenjot layanan data juga memberikan konfirmasi serupa. "Saya harus cek dulu, nanti dikabari," tandas Eddy Kurnia, VP Marketing and Communication Telkom.
Meski demikian, kata Ridwan, Ditjen Postel dan BRTI sudah komitmen mengalokasikan kanal 1019 untuk Btel dan Telkom tanpa tender. "Sebab kanal itu hanya mereka saja yang bisa pakai. Tinggal ajukan permohonan pada Menkominfo, baru kemudian diproses BRTI," jelasnya.
(rou/ash)