Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Telkomsel Balas Sindir Esia Bispak

Telkomsel Balas Sindir Esia Bispak


- detikInet

Jakarta - Telkomsel akhirnya bereaksi setelah tarif selulernya disindir Bakrie Telecom lewat program pemasaran kontroversial Esia Bispak. Operator seluler dengan pelanggan 72
juta ini mengumpamakan kasusnya bak mobil mewah melawan angkutan umum.

"Ibaratnya Mercy yang dipotong oleh angkot, tidak ada untungnya diladeni. Yang ada, kita yang bisa kena baret," sindir VP Channel Management Telkomsel, Gideon Edi
Purnomo, usai buka puasa di Hotel Mulia, Jakarta, Kamis (27/8/2009).

Esia Bispak adalah program terbaru dari Bakrie Telecom untuk pelanggan prabayar Esia. Dengan mengeluarkan biaya Rp 2000 dan registrasi SMS Rp 50, pelanggan Esia
diperkenankanΒ  mencicipi skema tarif prabayar milik Telkomsel, Indosat, dan Excelcomindo Pratama (XL) sebagai tarif telekomunikasi harian mereka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tujuan dari program pemasaran "Bisa Pakai Tarif Mana pun" ini tak lain demi menjaga pelanggan Esia agar tidak kabur menjadi pelanggan tiga besar operator seluler
tersebut. Khususnya karena alasan tertarik mencoba iming-iming tarif promosi yang ditawarkan ketiga operator seluler ini.

Gideon menjelaskan, logikanya sudah pasti tarif seluler Telkomsel akan lebih mahal dibanding tarif fixed wireless access (FWA) yang bisa ditawarkan operator semacam
Bakrie Telecom. Itu karena lisensi dan infrastruktur yang mereka miliki berbeda. Seluler yang punya mobilitas tanpa batas harus membayar biaya sewa frekuensi yang
delapan kali lebih mahal dari FWA.

Meski demikian, tarif seluler dinilai masih lebih fleksibel dibanding tarif FWA. Itu sebabnya, operator seluler masih bisa menggelar tarif promosi yang lebih murah
dibanding harga dasar seluler. Beda dengan FWA yang sudah menyentuh tarif harga paling rendah.

"Barangkali kreativitasnya sudah mentok. Karena mereka sudah tak bisa menurunkan tarif lagi, yang ada mereka malah menaikkannya dengan menggunakan skema tarif kami," demikian kata Gideon.

Ia berpendapat, langkah pentarifan semacam itu memang praktis dibutuhkan operator sekelas Bakrie Telecom dalam kondisi seperti ini. "Namanya juga mereka butuh makan, jadi mereka dituntut untuk mengejar profitabilitas, bukan sekadar customer base saja. Investor mereka pasti akan menanyakan, return buat mereka apa."

"Investor saat ini lebih menuntut profitabilitas per customer. Itu sebabnya Indosat rela menghanguskan jutaan nomor pelanggannya yang sudah tidak produktif. Di
Telkomsel juga begitu, begitu ada nomor yang sudah tidak lagi memberikan kontribusi pendapatan, pasti langsung kita sikat dari sistem. Jadi, 72 juta pelanggan yang kita
miliki saat ini memang pelanggan yang benar-benar produktif," papar Gideon.

Terkait langkah Bakrie Telecom dengan Esia Bispak andalannya, Telkomsel menegaskan, tidak akan membuat program pemasaran serupa untuk menjatuhkan operator lain. "Biar saja anjing menggonggong khafilah berlalu, karena pada akhirnya, pelanggan juga yang memutuskan," tandas sang VP Telkomsel. (rou/faw)




Hide Ads