"Kita tak butuh janji, kita butuh bukti kalau mereka memang punya goodwill," kata Basuki di kantor Ditjen Postel, Jakarta, Jumat (3/7/2009).
Menurutnya, setiap pemerintah mengeluarkan sertifikasi A untuk RIM, perusahaan asal kanada itu telah menandatangani komitmen untuk membuka pusat layanannya. Cuma sampai saat ini belum ada realisasi dari RIM.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Basuki juga menolak jika dikatakan permintaan untuk membangun pusat layanan ini karena desakan kompetitor RIM. Pasalnya, pembangunan pusat layanan itu merupakan kewajiban yang mereka setujui sendiri.
"Mereka (RIM-red.) punya dua tanggung jawab, yaitu terhadap aturan dan pelanggan. Di sini kita tidak membicarakan produk BB resmi (lewat operator) atau yang yang lewat paralel impor, karena kami menganggap tetap BlackBerry itu punya RIM," jelasnya.
Tak hanya BlackBerry, iPhone milik Apple juga akan 'ditodong' pemerintah untuk membangun layanan purna jualnya. Hanya saja masalahnya, kebutuhan untuk membuka service center BlackBerry dianggap sudah lebih dulu mendesak. "Kalau iPhone kami belum mendapat keluhan, makanya terlalu belum mendesak," tegas Basuki.
Dengan demikian, bisa dikatakan nasib impor BlackBerry ke Indonesia tinggal menghitung hari. Jika sampai 15 juli RIM belum membuka layanan purna jualnya, regulator akan menghentikan semua impor BlackBerry, baik itu dari operator maupun paralel impor yang memiliki sertifikasi B. "Semua BlackBerry," pungkas Basuki.
(ash/ash)