RIM atau Research in Motion, sebelumnya pada 15 Juni lalu, telah menemui Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) dan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) terkait desakan untuk menunjukan komitmen.
Komitmen yang dimaksud ialah pembangunan service center atau representative office, minimal di Jakarta. Jelas saja komitmen itu ditagih secepat mungkin. Bayangkan saja, pemilik handset BlackBerry di Indonesia sudah 300 ribu lebih, sementara jaminan purna jual untuk barang yang relatif mahal ini hampir tak ada dari RIM.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nah, bagi pelanggan awam yang tak tahu bedanya, jelas sangat dirugikan. Mana mereka tahu kalau perangkatnya itu barang selundupan pasar gelap. Namun, meski begitu, tetap saja BlackBerry yang mereka beli itu produk keluaran RIM.
RIM harus tanggung jawab. Indonesia bukan seperti negara lain yang mau terikat produk operator tertentu. Di sini, pelanggan punya kebebasan untuk beli produk ritel. Jadi, membangun pusat layanan jelas suatu hal yang mutlak jika produsen asal Kanada ini masih mau eksis jualan di Indonesia.
Desakan untuk RIM tak hanya datang dari Depkominfo dan BRTI selaku regulator telekomunikasi. Desakan agar RIM segera menyelesaikan studi kelayakan juga didengungkan tiga operator seluler tadi. Baik Telkomsel, Indosat, dan XL, semua mengaku satu paham dalam hal ini.
"Kami semua sepakat untuk melakukan permintaan dan tekanan bersama terhadap RIM agar rencana feasibility study bagi pendirian perwakilan di Indonesia dapat dilakukan secepat mungkin," kata Gatot S Dewa Broto, Kepala Pusat Informasi Depkominfo, di Jakarta, Selasa (23/6/2009).
Tak hanya itu, kata Gatot, pihak Departemen Perdagangan dan Departemen Keuangan ternyata juga idem ditto terhadap kebijakan Depkominfo.Dalam arti jika sewaktu-waktu diminta harus menyetop importasi produk BlackBerry mereka tinggal melakukannya di lapangan.
"Penghentian dan penolakan sertifikasi baru ini untuk sementara waktu saja sampai terealisasinya pendirian service center di Indonesia," lanjut dia.
Respon semua pihak dalam hal ini patut dihargai. Sekarang tinggal dari RIM saja untuk menunjukan komitmennya. Kalau tetap mau jualan, silakan bangun pusat layanan. Kalau tidak, ya lebih baik angkat kaki saja.
(rou/wsh)