Demikian ungkap Mohammad Ilyas, seorang pembaca detikINET yang berdomisili di Timor Leste, dalam e-mail yang diterima detikINET, Selasa (9/6/2009). Ilyas mengaku senang membaca laporan Onno W. Purbo mengenai perkembangan infrastruktur di Timor Leste.
Ilyas mengatakan berada di Timor Leste sejak 2003. Sepertiga waktunya selama ini, ujar Ilyas, digunakan untuk membantu pengembangan ICT di salah satu departemen di Timor Leste.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Memang betul Telkom Indonesia International sedang mengembangkan jaringan WiMax di Timor-Leste. Dewasa ini kegiatan tersebut sedang memasuki tahap peningkatan kapasitas bandwidth menjadi sebesar 10Mb. Bandwidth tersebut nantinya dipakai secara bersama-sama (sharing) oleh seluruh departemen yang ada di Timor-Leste. Selain itu, bandwidth tersebut juga akan di-share dengan sebagian distrik (setingkat kabupaten) di Timor-Leste dimana masing-masing akan mendapat sebesar 128 β 256 Kb.Β (wsh/ash)
Dengan pengalokasian bandwidth seperti itu, diperkirakan masyarakat umum akan sulit mendapat manfaat langsung dari jaringan WiMax sebab akan terkuras habis untuk keperluan Pemerintah. Karena itu, berbagai ide sedang dikembangkan agar masyarakat umum bisa mendapat manfaat langsung dari jaringan tersebut. Antara lain penyediaan akses Internet gratis bagi siswa di luar jam kerja Pemerintah, khususnya di kota-kota distrik di mana akses terhadap informasi sangat terbatas. Namun semua itu masih dalam tahap wacana.
Pertanyaan besarnya adalah: bagaimana dengan kecepatan akses Internet apabila seluruh departemen dan sebagian distrik terhubung ke jaringan Wimax tersebut? Saya kira tidaklah sulit untuk diprediksi: lambat, bahkan mungkin sangat lambat! Sekadar gambaran, salah satu departemen di Timor-Leste memiliki koneksi VSAT sebesar 2Mbyte untuk seluruh direktorat yang ada di bawahnya. Kapasitas sebesar itu hanya dapat menyediakan kecepatan akses Internet yang pas-pasan saja.
Sebagai informasi tambahan, dewasa ini akses Internet di Timor-Leste masih merupakan suatu kemewahan bagi masyarakat umum. Bahkan tidak tersedia di banyak ibukota distrik. Penyedia jasa telekomunikasi yang resmi di Timor-Leste hanya ada satu: Timor Telecom. Mungkin karena bersifat monopolistik, Timor Telecom menerapkan tarif yang sangat mahal namun tidak diimbangi oleh kualitas layanan yang setimpal. Rata-rata saya menghabiskan US$ 100 (sekitar 1 juta rupiah) per bulan hanya untuk menelpon keluarga di Indonesia selama 2-3 menit setiap 2-3 hari sekali.
Kecepatan akses Internet, contoh lainnya, akan membuat pembaca detikINET sangat frustrasi. Koneksi VSAT tarifnya mencapai 3 β 5 kali tarif di Indonesia. Koneksi ADSL dipasangi tarif 10 kali lipat tarif di Indonesia namun hanya memiliki kecepatan yang hampir setara akses dial-up TelkomNet Instan di Kupang, NTT.
Kondisi ini tentunya sangat tidak kondusif bagi kegiatan perusahaan swasta, hotel, LSM, organisasi internasional, dan kedutaan yang beroperasi di Timor-Leste. Karena itu mayoritas dari mereka, termasuk berbagai instansi pemerintah Timor-Leste sendiri, menggunakan jasa VSAT dari penyedia jasa yang beroperasi di Australia, Indonesia, Hongkong, dan sebagainya. Celakanya, hal tersebut membuat Kementerian Infrastruktur dan Telekomunikasi menjadi murka. Sebagai pengawas penggunaan frekuensi komunikasi di Timor-Leste baru-baru ini mereka memasang iklan di surat kabar menyatakan bahwa penggunaan jasa VSAT tersebut adalah illegal.
Begitulah keadaan kami di Timor-Leste dewasa ini: maju kena mundur kena. Bagi pembaca detikINET saya berharap Anda semua tidak merasa iri hati terhadap kondisi kami di sini; kemungkinan besar tidak akan membaik dalam waktu dekat walaupun dengan beroperasinya jaringan WiMax 10 Mb nanti.
Saya kira yang diperlukan masyarakat umum, baik di Timor-Leste maupun di Indonesia, adalah ketersediaan sarana komunikasi yang handal, luas cakupannya, serta murah tarifnya (terjangkau oleh orang kebanyakan). Mereka tidak perduli apapun teknologinya. Di sini bahkan GPRS-pun belum tersedia.