Demikian dikatakan Juru Bicara Konsorsium Palapa Ring Rakhmat Junaidi di sela peluncuran program baru Esia yang berlangsung di Wisma Bakrie, Jakarta, Selasa (26/5/2009).
"Kami menyayangkan mundurnya XL dalam Palapa Ring. Tapi ketiga anggota yang lain tetap menyatakan komitmennya," ujarnya kepada sejumlah wartawan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita masih belum tahu apa akan ada zona yang dihilangkan, namun nanti kita evaluasi rute yang akan kita lalui selanjutnya. Diharapkan, satu hingga dua minggu lagi evaluasi akan selesai," imbuhnya.
Palapa Ring sendiri merupakan megaproyek membangun tulang punggung (backbone) serat optik internasional yang terdiri dari 7 cincin (ring) melingkupi 33 provinsi dan 460 kabupaten di KTI.
Proyek ini semula membutuhkan biaya sekitar US$ 225 juta, yang terdiri dari 35.280 kilometer serat optik bawah laut (submarine cable) dan 21.708 kilometer serat optik bawah tanah (inland cable).
Semula dana yang disiapkan tujuh anggota konsorsium untuk pembangunan ini US$ 225 juta. Namun, mundurnya tiga anggota konsorsium menjadikan nilai proyek berkurang menjadi US$ 180 juta. Terakhir, datangnya krisis ekonomi membuat nilai proyek kembali terdepresiasi menjadi US$ 150 juta karena melemahnya nilai tukar rupiah.
Ditambah dengan mundurnya XL, bisa dipastikan investasi yang mampu disediakan tiga perusahaan konsorsium yang tersisa hanya sekitar US$ 120 juta, dengan
komposisi terbesar masih dari Telkom. (ash/faw)