Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Pola Investasi Palapa Ring Ditata Ulang

Pola Investasi Palapa Ring Ditata Ulang


- detikInet

Jakarta - Palapa Ring praktis tinggal menyisakan Telkom, Indosat, dan Bakrie Telecom, sebagai anggota konsorsium setelah Excelcomindo Pratama (XL) mundur. Agar megaproyek ini tetap jalan, pola investasinya akan ditata ulang.

"Pola investasinya harus kita adjust kembali," kata Dirjen Postel Depkominfo, Basuki Yusuf Iskandar, kepada detikINET saat berkunjung ke desa Ranupani, Lumajang, Jawa Timur, baru-baru ini.

Palapa Ring sendiri merupakan megaproyek membangun tulang punggung (backbone) serat optik internasional yang terdiri dari 7 cincin (ring) melingkupi 33 provinsi dan 460 kabupaten di KTI.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Proyek ini semula membutuhkan biaya sekitar US$ 225 juta itu terdiri dari 35.280 kilometer serat optik bawah laut (submarine cable) dan 21.708 kilometer
serat optik bawah tanah (inland cable).

Semula dana yang disiapkan tujuh anggota konsorsium untuk pembangunan ini US$ 225 juta. Namun, mundurnya tiga anggota konsorsium menjadikan nilai proyek
berkurang menjadi US$ 180 juta. Terakhir, datangnya krisis ekonomi membuat nilai proyek kembali terdepresiasi menjadi US$ 150 juta karena melemahnya nilai tukar rupiah.

Ditambah dengan mundurnya XL, bisa dipastikan investasi yang mampu disediakan tiga perusahaan konsorsium yang tersisa hanya sekitar US$ 120 juta, dengan
komposisi terbesar masih dari Telkom.

Direktur Utama Telkom, Rinaldi Firmansyah, setuju konsorsium perlu duduk bersama dan menghitung kembali mengenai investasi untuk pembangunan megaproyek Palapa Ring. "Setelah itu baru diputuskan kembali," jelasnya kepada detikINET, Jumat (22/5/2009).

Rinaldi memastikan komitmen Telkom untuk tetap ikut dalam megaproyek ini. Begitu juga dengan Indosat, seperti ditegaskan Direktur Utama Johnny Swandi Sjam dan Direktur Marketing Guntur Siboro.

"Kami masih tetap ikut," kata Johnny. "Sampai saat ini rasanya belum ada perubahan komitmen Indosat," sambung Guntur.

Meski demikian, baik Telkom dan Indosat, belum mengutarakan niat untuk menambah komposisi bagian dalam pola investasi baru. "Indosat hanya di-approved pemegang saham sesuai komitmen terdulu," masih kata Guntur.

Sementara, Direktur Corporate Services Bakrie Telecom sekaligus juru bicara konsorsium, Rakhmat Junaidi, belum mau berkomentar mengenai kondisi seputar
Palapa Ring.

ICT Fund

Tentu tak ada yang mau proyek Palapa Ring gagal. Dirjen Postel pun berjanji mengupayakan stimulus untuk membantu pembangunan dari dana "ICT Fund", sebuah
lembaga pembiayaan yang mendukung kegiatan Information Communication Technologies (ICT).

"Kami akan membantu lewat ICT Fund yang kami gagas," kata Basuki.

ICT Fund nantinya akan mengoptimalkan 'dana tidur' yang ada di rekening negara. Seperti diketahui, Ditjen Postel menargetkan meraih dana Rp 7 triliun dari
Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) di sepanjang 2009.

Dana tersebut berasal dari sumbangan Universal Service Obligation (USO) 1,25% dan pungutan Biaya Penyelenggaraan (BHP) Telekomunikasi sebesar 0,5% dari pendapatan kotor penyelenggaraan telekomunikasi. Sumber lainnya adalah dari hasil lelang frekuensi dan denda yang dibayar oleh penyelenggara telekomunikasi.

PNBP tersebut sebagian dialokasikan untuk menyukseskan program USO yang rencananya akan menjamah 31.824 desa dari 32 provinsi. Jumlah tersebut menyusut
6.647 desa dari sasaran tender sebelumnya, yaitu 38.471 desa di seluruh Indonesia. Hal itu karena ada beberapa wilayah perdesaan yang telah terjangkau
layanan seluler dan dikategorikan sebagai skema USO.

Berkurangnya jumlah desa tentu membuat pagu anggaran mengerut dari rencana semula. Pagu yang tersedia menjadi Rp 814,82 miliar dari semula direncanakan
berkisar Rp 1,162 triliun. Sedangkan menurut catatan, hingga akhir Maret lalu dana kontribusi USO yang tersedia mencapai 1,744 triliun rupiah. Angka itu baru dari USO, belum secara total PNBP yang disetorkan ke rekening negara.

Basuki mengakui, dana yang ada di rekening negara selain untuk USO memang lumayan besar. "Sayang juga kalau tidak dioptimalkan. Karena itu ide membuat ICT
Fund untuk membantu industri bisa berupa pinjaman lunak atau membuat program yang mendorong adanya pembangunan infrastruktur," jelasnya.

Namun ia sendiri mengaku masih akan mempelajari stimulus dan insentif yang bisa diberikan untuk Palapa Ring dari dana ICT Fund tersebut. "Masih dirumuskan. Akan kami sesuaikan dengan pola investasi yang baru," tandas Basuki.
(rou/ash)





Hide Ads