Menurut John Sihar Simanjuntak, salah satu anggota konsorsium, tarif rendah untuk akses internet cepat itu bisa mereka tawarkan jika ketersediaan infrastruktur BWA sudah massal.
"Misalnya dengan 16.e. Kalau masih 16.d, kami agak kesulitan. Tarif mungkin masih berkisar Rp 300 ribu sampai 500 ribu. Namun itu sudah lebih murah dibanding unlimited Telkom yang sebulannya Rp 750 ribu," ujarnya di gedung Cyber, Jakarta, Selasa (19/5/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini hidup mati para penyelenggara ISP. Posisi kami terjepit oleh operator yang juga punya anak usaha ISP. Mau tidak mau kami harus punya BWA untuk bisa menjual produk dengan skala ekonomis," jelas Heru.
Konsorsium sepakat masa depan telekomunikasi ada di layanan data. Rata-rata pendapatan (ARPU) layanan data dari tiap pelanggan setiap bulannya bisa mencapai Rp 500 ribu. (rou/faw)