Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) menilai keterbatasan frekuensi untuk 3G karena terlalu banyaknya operator yang diberi lisensi penyelenggara seluler generasi ketiga.
Dari sebelas operator telekomunikasi, saat ini ada lima operator 3G di Indonesia, yakni Telkomsel, Indosat, Excelcomindo Pratama, Natrindo Telepon Seluler, dan Hutchison CP Telecommunication.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan masing-masing operator 3G cuma mendapat 5 MHz, dinilai Mastel memang tak cukup untuk menyelenggarakan mobile broadband secara layak. Belum lagi biaya lisensi upfront fee yang mencapai miliaran rupiah, dianggap turut punya andil mahalnya akses broadband.
"Kami berharap pemerintah menjadikan kasus ini sebagai pelajaran untuk Wimax. Operatornya jangan banyak-banyak agar dapat frekuensi yang cukup. Idealnya, tiap operator Wimax dapat frekuensi 30 MHz," lanjut Soemitro.
Pemerintah rencananya akan menggelar tender Wimax pada awal April 2009. Dari 100 MHz yang tersedia untuk broadband wireless acces (BWA), rencananya akan dialokasikan untuk delapan operator regional. Masing-masing operator akan dialokasikan 12,5 MHz.
Sementara, tender yang menggunakan pita frekuensi di rentang 2,3 GHz dan 3,3 GHz tersebut, mayoritas atau 75 persennya akan dialokasikan untuk BWA nomadic menggunakan teknologi Wimax 16.d. Sementara 25 persen sisanya untuk mobile Wimax 16.e.
"Di kubu Mastel sendiri, dukungan untuk pemilihan teknologi ini masih menjadi polemik. Sebab, anggota kami tak hanya vendor asing yang mengusung 16.e, tapi juga perusahaan lokal," tandas Sekjen Mastel, Retno S Renggana.
(rou/faw)